Assalamualaikum wr. wb.
Pertama-tama dan yang utama mari kita panjatkan puji syukur pada Allah SWT karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul pada forum ASMIHA dalam keadaan sehat wal’afiat.
The 22nd Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association ini merupakan suatu pertemuan ilmiah yang rutin diselenggarakan oleh PP PERKI setiap tahun. Sehingga diharapkan dapat menjadi icon academic kardiovaskular di tingkat nasional maupun internasional.
Teman sejawat yang saya hormati.
Ajang pertemuan ASMIHA ini sangat penting karena adanya joint session dengan kardiolog-kardiolog di ASEAN melalui Asean Federation of Cardiology, Asia Pacific diantaranya dengan Taiwan Society of Cardiology, China Society of Cardiology, serta joint session dengan European Heart Association dan American College of Cardiology. ESC dan ACC sangat mengapresiasi hasil dari pertemuan ilmiah ini sehingga pada kesempatan berikutnya memberi peluang bagi PERKI untuk turut serta dalam forum ilmiah di ESC dan ACC. Kesempatan ini haruslah dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh anggota PERKI, termasuk para kardiolog muda agar suatu saat bisa berkiprah sebagai peneliti dan pembicara pada level Internasional.
ASMIHA merupakan suatu sarana untuk mengekspresikan hasil riset baik klinis maupun non klinis para kardiolog di seluruh Indonesia. Selain itu ASMIHA juga menjadi media transfer of knowledge dari kardiolog di pusat-pusat pendidikan Kardiovaskular kepada dokter yang berada di pelayanan kedokteran Primer maupun pelayanan Sekunder terutama dengan akan diberlakukannya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional pada awal tahun 2014.
Teman sejawat yang saya hormati.
Saat ini anggota Perki di seluruh Indonesia berjumlah 550 orang dan mempunyai 12 Pusat Pendidikan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di seluruh Indonesia dengan jumlah PPDS nya 350 orang, maka diperkirakan pada tahun 2020 jumlah anggota PERKI menjadi 2.000 orang di seluruh Indonesia.
ASMIHA adalah forum ilmiah utama yang dilaksanakan setiap tahun oleh PERKI. Saat ini PERKI memiliki 11 Pokja (kelompok kerja = Working Group) yang akan membentuk forum-forum ilmiah yang lebih kecil, lebih fokus, tetapi dengan kualitas terbaik, dan diberi nama sesuai Pokja-nya, contohnya INA-Echo, INA Vaskular, INA Heart Failure, INA Hipertensi, dan lain-lain yang diharapkan akan lebih memajukan Ilmu Kardiovaskular dimasa datang, sebagaimana dilaksanakan oleh organisasi kardiologi Uni Eropa yang menjadi Referensi PERKI.
Dan insya Allah mulai tahun depan pada forum ASMIHA akan dipresentasikan Indonesian Guideline mengenai kardiovaskular yang akan diserahkan kepada Kementerian Kesehatan untuk menjadi rujukan Guidelines Kardiovaskular di Indonesia.
Para Peserta ASMIHA yang saya hormati, disamping presentasi ilmiah pada ASMIHA ini terdapat satu materi khusus yakni mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan diberlakukan tahun 2014. Kami berharap rekan-rekan sekalian termasuk teman-teman dokter umum dapat dengan seksama mengikuti materi tersebut, oleh karena nantinya diharapkan rekan-rekan dokter di Pelayanan Kedokteran Primer akan berjenjang mengirimkan pasien jantung dan pembuluh darah ke Pelayanan Kedokteran Sekunder / RS tipe C / RS Tipe B dan selanjutnya ke RS Tingkat Tersier.
Demikian sambutan dari saya, semoga forum ASMIHA ini menjadi forum yang dapat mempererat persaudaraan, kerja sama serta memberikan ilmu yang bermanfaat bagi rekan-rekan yang hadir dan nantinya dapat menjadi bekal untuk memberikan sumbangsih pada bangsa ini.
Wassalamualaikum wr. wb.
pita deadline

Senin, 29 April 2013
Sambutan Ketua PP PERKI pada Acara Konvokasi SpJP Baru
Assalamualaikum wr. wb.
Pertama-tama dan yang utama mari kita panjatkan puji syukur pada Allah SWT karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul pada acara Konvokasi SpJP baru dan pemberian sertifikat sub spesialis dalam keadaan sehat wal’afiat.
Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan tahapan pendidikan untuk menjadi kardiolog dengan gelar dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.
Saya berharap nantinya saudara dapat menjadi agent of change di dalam masyarakat. Perubahan di sini dalam arti meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan dan hasil riset, khususnya di bidang kardiovaskular yang tidak hanya bermanfaat untuk kesejahteraan saudara sekalian tetapi juga untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
Saudara wisudawan yang saya banggakan.
Saya ingin memberikan sedikit penjelasan mengenai PERKI yang lahir hampir 60 tahun lalu, di suatu Ruangan di RS Saint Carolus, hanya berbeda 1 jam dengan kelahiran Organisasi Profesi PAPDI pada ruangan yang sama. Saat ini PERKI telah memiliki 24 Cabang dan 15 Komisariat dengan anggota 550 orang dan 350 orang lagi dalam pendidikan.
Ketua PAPDI terpilih saat itu adalah Prof dr Biran, dan Sekretarisnya adalah Prof dr Gan Tjong Bing, dan kemudian Prof Gan Tjong Bing yang merupakan seorang internist lulusan Belanda menjadi Ketua PERKI yang pertama.
Ada kalimat monumental yang disampaikan oleh Prof Gan Tjong Bing pada saat pelantikan: “Mengapa disamping PAPDI harus didirikan pula PERKI? Karena dalam kurun waktu lebih 10 tahun terakhir ini, kemajuan di lapangan Ilmu Kardiologi amat pesat. Kemajuan tersebut sebagian besar disebabkan karena adanya cara pemeriksaan baru yaitu Cardiac Catheterization, Angiokardiografi, Balistokardiografi, Vectorkardiografi dan Electrocardiografi."
Pemeriksaan-pemeriksaan ini begitu cepat kemajuannya sehingga sukarlah bagi Internist umum untuk mengikuti dan menguasai kemajuan-kemajuan tersebut.
Oleh karena itu mudahlah kita fahami mengapa Ilmu kardiologi sebaiknya terpisah dan mendapat tempat tersendiri disamping ilmu Penyakit Dalam, tentulah dengan kerjasama yang erat.
Maka berdasarkan gagasan itu Pendidikan Ilmu kardiologi di Indonesia yang mengikuti pola pendidikan Kardiologi di Uni Eropa serta hampir 70% pendidikan Kardiologi diseluruh dunia tanpa melalui pendidikan internist terlebih dahulu berkembang sangat pesat. Sebagaimana terlihat pada kondisi PERKI saat ini yang mempunyai kerjasama keilmuan dengan European Society of Cardiology, American College Cardiologi, Chinese dan Taiwan Society Cardiology, Jepang, Australia, Timur tengah, Korea, Amerika Selatan, serta negara-negara Asean.
Para perintis Kardiologi lainnya yaitu dr Sukaman, dr Lutfi Usman, dr Tagor, Prof Lily Rilantono dan Prof Asikin Hanafiah yang masih ada saat ini, serta Prof Moh Saleh dari Surabaya dan Prof Budhi Darmoyo dari Semarang, serta generasi berikutnya telah meninggalkan jejak sejarah yang harus diikuti, diteladani dan dikembangkan oleh kita semua. Utamanya para wisudawan yang muda-muda agar bisa berkiprah dan sejajar dengan kardiolog dari regional Asia Pasifik.
Kepada sejawat SpJP yang menerima sertifikat sub spesialis, kami mengucapkan selamat dan semoga kepandaian dan keterampilan tersebut dapat memberikan nilai lebih di rumah sakit dengan pelayanan tersier, sesuai dengan rancangan Pemerintah dalam melakukan program SJSN di tahun 2014 mendatang dan PP PERKI akan terus mengembangkan pendidikan 8 jenis subspesialis pada 12 Pusat Pendidikan Kardiovaskular.
Saudara-saudara sekalian.
Kami tambahkan pula, bahwa PP PERKI telah mengangkat beberapa anggota Dewan Pengawas Pokja yang saat ini menaungi 11 Pokja/Working Group dengan kriteria mereka yang telah berjasa besar pada pengembangan Pokja, yaitu diantaranya Prof dr Lily Rilantono, Prof Asikin Hanafiah, dr Otte J rachman, dr Ann Sunarta dengan harapan bahwa beliau-beliau tersebut masih bersedia memberikan bimbingan, pemikiran dan sumbangsih untuk pengembangan Pokja di masa mendatang yang merupakan tulang punggung PERKI dalam bidang keilmuan Kardiovaskular.
Dalam kesempatan kali ini yang perlu saya tekankan adalah pentingnya menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab dengan tidak melanggar kode etik kedokteran.
Sejawat SpJP yang baru, kami mengajak saudara sekalian untuk membesarkan PERKI dan memberikan pikiran-pikiran yang cerdas guna mengembangkan organisasi PERKI yang kita cintai. Kami juga berharap sejawat SpJP yang baru untuk bergabung dalam Pokja-pokja yang dibentuk oleh PERKI.
Berdasarkan pengalaman saya menekuni profesi kardiolog ini, ada beberapa hal yang ingin saya nasehatkan secara pribadi untuk saudara sekalian :
1. Pentingnya menjaga keseimbangan antara profesi, keluarga, dan kesehatan
2. Selalu menyertakan do'a kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aktivitas karena segala kesuksesan yang kita dapatkan saat ini adalah atas kehendak-Nya
3. Semangat untuk terus belajar oleh karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baik di tingkat regional maupun global semakin pesatnya dan diharapkan kardiolog Indonesia mampu bersaing dengan negara manapun.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Terimakasih
Wassalamualaikum wr. wb.
Pertama-tama dan yang utama mari kita panjatkan puji syukur pada Allah SWT karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul pada acara Konvokasi SpJP baru dan pemberian sertifikat sub spesialis dalam keadaan sehat wal’afiat.
Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan tahapan pendidikan untuk menjadi kardiolog dengan gelar dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.
Saya berharap nantinya saudara dapat menjadi agent of change di dalam masyarakat. Perubahan di sini dalam arti meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan dan hasil riset, khususnya di bidang kardiovaskular yang tidak hanya bermanfaat untuk kesejahteraan saudara sekalian tetapi juga untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
Saudara wisudawan yang saya banggakan.
Saya ingin memberikan sedikit penjelasan mengenai PERKI yang lahir hampir 60 tahun lalu, di suatu Ruangan di RS Saint Carolus, hanya berbeda 1 jam dengan kelahiran Organisasi Profesi PAPDI pada ruangan yang sama. Saat ini PERKI telah memiliki 24 Cabang dan 15 Komisariat dengan anggota 550 orang dan 350 orang lagi dalam pendidikan.
Ketua PAPDI terpilih saat itu adalah Prof dr Biran, dan Sekretarisnya adalah Prof dr Gan Tjong Bing, dan kemudian Prof Gan Tjong Bing yang merupakan seorang internist lulusan Belanda menjadi Ketua PERKI yang pertama.
Ada kalimat monumental yang disampaikan oleh Prof Gan Tjong Bing pada saat pelantikan: “Mengapa disamping PAPDI harus didirikan pula PERKI? Karena dalam kurun waktu lebih 10 tahun terakhir ini, kemajuan di lapangan Ilmu Kardiologi amat pesat. Kemajuan tersebut sebagian besar disebabkan karena adanya cara pemeriksaan baru yaitu Cardiac Catheterization, Angiokardiografi, Balistokardiografi, Vectorkardiografi dan Electrocardiografi."
Pemeriksaan-pemeriksaan ini begitu cepat kemajuannya sehingga sukarlah bagi Internist umum untuk mengikuti dan menguasai kemajuan-kemajuan tersebut.
Oleh karena itu mudahlah kita fahami mengapa Ilmu kardiologi sebaiknya terpisah dan mendapat tempat tersendiri disamping ilmu Penyakit Dalam, tentulah dengan kerjasama yang erat.
Maka berdasarkan gagasan itu Pendidikan Ilmu kardiologi di Indonesia yang mengikuti pola pendidikan Kardiologi di Uni Eropa serta hampir 70% pendidikan Kardiologi diseluruh dunia tanpa melalui pendidikan internist terlebih dahulu berkembang sangat pesat. Sebagaimana terlihat pada kondisi PERKI saat ini yang mempunyai kerjasama keilmuan dengan European Society of Cardiology, American College Cardiologi, Chinese dan Taiwan Society Cardiology, Jepang, Australia, Timur tengah, Korea, Amerika Selatan, serta negara-negara Asean.
Para perintis Kardiologi lainnya yaitu dr Sukaman, dr Lutfi Usman, dr Tagor, Prof Lily Rilantono dan Prof Asikin Hanafiah yang masih ada saat ini, serta Prof Moh Saleh dari Surabaya dan Prof Budhi Darmoyo dari Semarang, serta generasi berikutnya telah meninggalkan jejak sejarah yang harus diikuti, diteladani dan dikembangkan oleh kita semua. Utamanya para wisudawan yang muda-muda agar bisa berkiprah dan sejajar dengan kardiolog dari regional Asia Pasifik.
Kepada sejawat SpJP yang menerima sertifikat sub spesialis, kami mengucapkan selamat dan semoga kepandaian dan keterampilan tersebut dapat memberikan nilai lebih di rumah sakit dengan pelayanan tersier, sesuai dengan rancangan Pemerintah dalam melakukan program SJSN di tahun 2014 mendatang dan PP PERKI akan terus mengembangkan pendidikan 8 jenis subspesialis pada 12 Pusat Pendidikan Kardiovaskular.
Saudara-saudara sekalian.
Kami tambahkan pula, bahwa PP PERKI telah mengangkat beberapa anggota Dewan Pengawas Pokja yang saat ini menaungi 11 Pokja/Working Group dengan kriteria mereka yang telah berjasa besar pada pengembangan Pokja, yaitu diantaranya Prof dr Lily Rilantono, Prof Asikin Hanafiah, dr Otte J rachman, dr Ann Sunarta dengan harapan bahwa beliau-beliau tersebut masih bersedia memberikan bimbingan, pemikiran dan sumbangsih untuk pengembangan Pokja di masa mendatang yang merupakan tulang punggung PERKI dalam bidang keilmuan Kardiovaskular.
Dalam kesempatan kali ini yang perlu saya tekankan adalah pentingnya menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab dengan tidak melanggar kode etik kedokteran.
Sejawat SpJP yang baru, kami mengajak saudara sekalian untuk membesarkan PERKI dan memberikan pikiran-pikiran yang cerdas guna mengembangkan organisasi PERKI yang kita cintai. Kami juga berharap sejawat SpJP yang baru untuk bergabung dalam Pokja-pokja yang dibentuk oleh PERKI.
Berdasarkan pengalaman saya menekuni profesi kardiolog ini, ada beberapa hal yang ingin saya nasehatkan secara pribadi untuk saudara sekalian :
1. Pentingnya menjaga keseimbangan antara profesi, keluarga, dan kesehatan
2. Selalu menyertakan do'a kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aktivitas karena segala kesuksesan yang kita dapatkan saat ini adalah atas kehendak-Nya
3. Semangat untuk terus belajar oleh karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baik di tingkat regional maupun global semakin pesatnya dan diharapkan kardiolog Indonesia mampu bersaing dengan negara manapun.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Terimakasih
Wassalamualaikum wr. wb.
ASMIHA 22nd 2013 dan Sistem Jaminan Sosial Nasional 2014
ANNUAL Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (Asmiha), acara pertemuan ilmiah rutin yang selalu diadakan tiap tahun oleh Pengurus Pusat (PP) PERKI, adalah suatu sarana untuk mengekspresikan, mengevaluasi dan mengapresiasi hasil riset, baik klinis maupun non-klinis, dari para kardiolog di seluruh Indonesia dan sebagai wahana kerja sama antar asosiasi jantung tingkat mancanegara. Oleh karena itu, Asmiha diharapkan dapat menjadi media sarana pertukaran pengetahuan dari kardiolog di pusat-pusat pendidikan kardiovaskular kepada dokter di pelayanan primer maupun sekunder, demikian sepenggal kutipan dari sambutan Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni, SpJP(K), FIHA, FAsCC selaku Presiden PERKI pada Opening Ceremony Asmiha ke 22 tahun 2013 ini.Asmiha yang dilangsungkan di Ritz Carlton Hotel pada 5-7 April 2013 dan dibuka resmi oleh Prof. Dr. dr. Med Akmal Taher, SpU(K) selaku ketua Bina Upaya Kesehatan mewakili Menteri Kesehatan RI ini, memfokuskan diri pada update inovasi-inovasi baru di bidang kedokteran jantung, namun bukan terhadap sponsor penyedia produk-produk yang berkaitan dengan kardiologi. Hal ini dibuktikan melalui pagelaran 60 poster penelitian, pengumpulan 130 paper penelitian dari seluruh Indonesia, serta penganugerahan Young Innovator Award 2013 seperti tahun-tahun sebelumnya.
Konsep acara tahun ini serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas menjadi acara pre-congress yang terdiri dari 9 workshop berbeda yang dilaksanakan pada 4 April 2013 dan main symposium yang diadakan dalam bentuk plenary session pada 5-7 April 2013. Asmiha kali ini mendatangkan lima belas pembicara mancanegara dan mengadakan joint symposium dengan berbagai asosiasi jantung dunia, antara lain American Heart Association, European Heart Association, China Heart Association, Taiwan Heart Association, dan tentu saja asosiasi jantung Asia Tenggara.
Ada perbedaan mendasar antara Asmiha kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya, Asmiha kali ini memberdayakan juga narasumber dari kalangan muda yang berpotensi dan handal di bidangnya. Hal ini diharapkan akan membawa energi positif dan semangat khas kaum muda ke dalam perhelatan akbar ini. Tidak hanya sekedar mengenai ilmiah saja, Asmiha juga menjunjung nilai-nilai seni dan kebersamaan melalui Gala Dinner dan Cultural Night. Terobosan yang tidak kalah menarik tahun ini adalah PERKI CUP yang merupakan ajang pertandingan futsal antar residen kardiologi dari 12 pusat kesehatan jantung di Indonesia.
Sesuai dengan tema yang diusung tahun ini yakni Paradigm Shift in Management of Cardiovascular Disease, Asmiha kali ini ingin mengubah paradigma tata laksana penyakit jantung, demikian penuturan Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA selaku ketua Asmiha ke 22 ini.
"Penyakit jantung tidak selalu memerlukan tindakan invasif dan rehabilitatif seperti valve replacement atau stenting. Tindakan noninvasif dan terapi regenerative sudah menemukan titik temu di belahan dunia lain, khususunya di Eropa dan Amerika. Selain itu, pendekatan multidisiplin dalam penanganan gagal jantung sebagai penyakit komorbid dari berbagai penyakit degeneratif juga ingin ditekankan pada Asmiha kali ini," lanjut Yoga.
Mengintip Jendela Masa Depan Kardiologi Indonesia
Pada konferensi pers yang dimoderatori oleh Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA, membahas dan menjelaskan arahan masa depan kardiologi Indonesia. Salah satu arahan tersebut terkait dengan program kerja pemerintah, yakni Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pada implementasi SJSN nanti, akan diberlakukan sistem perujukan berjenjang yang lebih terstruktur dan komprehensif, mulai dari pelayanan primer, sekunder, hingga tersier. Perujukan akan dilakukan dengan benar dan tepat sesuai kondisi dan keperluan. Rancangan sistem tersebut masih berada dalam tahap perencanaan sampai sekarang. Buku Pedoman Layanan Penyakit Jantung Indonesia yang dikeluarkan oleh PERKI nantinya akan diadopsi oleh pemerintah untuk sistem perujukan terkait penyakit jantung.
Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah rencana pendirian fasilitas pusat jantung nasional pada 11 rumah sakit pendidikan di Indonesia. Daerah yang menjadi target, antara lain Medan, Bandung, Padang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, Denpasar, Makassar dan Manado. Daerah-daerah tersebut dipilih karena dokter-dokter lulusan universitas tersebut berkontribusi pada Asmiha sejak dulu dan kini. Rumah Sakit Harapan Kita sebagai pusat jantung nasional saat ini akan memberikan arahan dan nasihat kepada 11 calon pusat pendidikan jantung nasional tersebut. "Harapan kami nantinya 11 pusat jantung nasional baru tersebut dapat berimbang dengan pusat jantung nasional yang sekarang. Nantinya, orang Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri," jelas dr. Hananto Andriantoro, SpJP.
Pakar-pakar dari 12 pusat jantung nasional baru tersebut nantinya akan membentuk Komite Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah yang diketuai Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA. Komite tersebut akan berkolaborasi dengan PERKI dan Rumah Sakit Pendidikan Kardiovaskular untuk membuat konsep pelayanan prevensi, promosi dan pengobatan penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap komponen dalam komite tersebut memiliki peran masing-masing dalam simposium Asmiha sebagai wadah keilmuan, Rumah Sakit Harapan Kita sebagai wadah pendidikan, dan PERKI sebagai wadah sumber daya manusia spesialis jantung dan pembuluh darah. "Peran utama komite itu adalah think tank yang memberikan saran dan informasi, baik diminta atau tidak mengenai masalah jantung di Indonesia," ujar Hananto.(Dikutip dari terbitan harian Asmiha 22)
Konsep acara tahun ini serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas menjadi acara pre-congress yang terdiri dari 9 workshop berbeda yang dilaksanakan pada 4 April 2013 dan main symposium yang diadakan dalam bentuk plenary session pada 5-7 April 2013. Asmiha kali ini mendatangkan lima belas pembicara mancanegara dan mengadakan joint symposium dengan berbagai asosiasi jantung dunia, antara lain American Heart Association, European Heart Association, China Heart Association, Taiwan Heart Association, dan tentu saja asosiasi jantung Asia Tenggara.
Ada perbedaan mendasar antara Asmiha kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya, Asmiha kali ini memberdayakan juga narasumber dari kalangan muda yang berpotensi dan handal di bidangnya. Hal ini diharapkan akan membawa energi positif dan semangat khas kaum muda ke dalam perhelatan akbar ini. Tidak hanya sekedar mengenai ilmiah saja, Asmiha juga menjunjung nilai-nilai seni dan kebersamaan melalui Gala Dinner dan Cultural Night. Terobosan yang tidak kalah menarik tahun ini adalah PERKI CUP yang merupakan ajang pertandingan futsal antar residen kardiologi dari 12 pusat kesehatan jantung di Indonesia.
Sesuai dengan tema yang diusung tahun ini yakni Paradigm Shift in Management of Cardiovascular Disease, Asmiha kali ini ingin mengubah paradigma tata laksana penyakit jantung, demikian penuturan Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA selaku ketua Asmiha ke 22 ini.
"Penyakit jantung tidak selalu memerlukan tindakan invasif dan rehabilitatif seperti valve replacement atau stenting. Tindakan noninvasif dan terapi regenerative sudah menemukan titik temu di belahan dunia lain, khususunya di Eropa dan Amerika. Selain itu, pendekatan multidisiplin dalam penanganan gagal jantung sebagai penyakit komorbid dari berbagai penyakit degeneratif juga ingin ditekankan pada Asmiha kali ini," lanjut Yoga.
Mengintip Jendela Masa Depan Kardiologi Indonesia
Pada konferensi pers yang dimoderatori oleh Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA, membahas dan menjelaskan arahan masa depan kardiologi Indonesia. Salah satu arahan tersebut terkait dengan program kerja pemerintah, yakni Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pada implementasi SJSN nanti, akan diberlakukan sistem perujukan berjenjang yang lebih terstruktur dan komprehensif, mulai dari pelayanan primer, sekunder, hingga tersier. Perujukan akan dilakukan dengan benar dan tepat sesuai kondisi dan keperluan. Rancangan sistem tersebut masih berada dalam tahap perencanaan sampai sekarang. Buku Pedoman Layanan Penyakit Jantung Indonesia yang dikeluarkan oleh PERKI nantinya akan diadopsi oleh pemerintah untuk sistem perujukan terkait penyakit jantung.
Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah rencana pendirian fasilitas pusat jantung nasional pada 11 rumah sakit pendidikan di Indonesia. Daerah yang menjadi target, antara lain Medan, Bandung, Padang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, Denpasar, Makassar dan Manado. Daerah-daerah tersebut dipilih karena dokter-dokter lulusan universitas tersebut berkontribusi pada Asmiha sejak dulu dan kini. Rumah Sakit Harapan Kita sebagai pusat jantung nasional saat ini akan memberikan arahan dan nasihat kepada 11 calon pusat pendidikan jantung nasional tersebut. "Harapan kami nantinya 11 pusat jantung nasional baru tersebut dapat berimbang dengan pusat jantung nasional yang sekarang. Nantinya, orang Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri," jelas dr. Hananto Andriantoro, SpJP.
Pakar-pakar dari 12 pusat jantung nasional baru tersebut nantinya akan membentuk Komite Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah yang diketuai Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA. Komite tersebut akan berkolaborasi dengan PERKI dan Rumah Sakit Pendidikan Kardiovaskular untuk membuat konsep pelayanan prevensi, promosi dan pengobatan penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap komponen dalam komite tersebut memiliki peran masing-masing dalam simposium Asmiha sebagai wadah keilmuan, Rumah Sakit Harapan Kita sebagai wadah pendidikan, dan PERKI sebagai wadah sumber daya manusia spesialis jantung dan pembuluh darah. "Peran utama komite itu adalah think tank yang memberikan saran dan informasi, baik diminta atau tidak mengenai masalah jantung di Indonesia," ujar Hananto.(Dikutip dari terbitan harian Asmiha 22)
Langganan:
Postingan (Atom)