pita deadline

pita deadline

Senin, 04 Juni 2012

PERKI JAYA : STOP ROKOK !

Press Release PERKI JAYA

PERKI JAYA, sebagai Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia wilayah DKI Jakarta, bersamaan dengan digelarnya Jakarta Cardiovascular Summit (JCS) di Ritz Carlton, Jakarta, 26-27 Mei 2012 ini, memandang perlu untuk menyampaikan “pernyataan sikap” bahwa PERKI JAYA segera mengambil langkah proaktif terkait semakin meningkatnya prevalensi penyakit jantung akibat merokok di Indonesia.
Mencermati meningkatnya konsumsi tembakau Indonesia saat ini yang sudah sangat mengkhawatirkan. Menilik data Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Riset Kesehatan Dasar, Kemenkes, diketahui bahwa Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Sejak tahun 1995 hingga kini, terjadi peningkatan yang sangat besar, yaitu dari sebanyak 34,7 juta perokok menjadi 65 juta perokok.
Sementara berdasarkan data yang dilansir YLKI baru-baru ini, bahwa lebih dari 65 juta masyarakat Indonesia adalah perokok aktif, dan lebih dari 95 juta masyarakat Indonesia merupakan perokok pasif.
Bahkan bila menilik data WHO tahun 2010, bahwa dari sekitar satu miliar perokok di seluruh dunia, 200 juta orang diantaranya adalah kaum perempuan yang 7% nya adalah remaja, tersebar di 151 negara. Bahkan meninggal dunia akibat penyakit tidak menular di kawasan ASEAN didominasi kaum wanita, yakni 61,5% dari total kematian.
Hal ini sejalan pula dengan pola penyebab kematian di Indonesia, yang menunjukkan peningkatan proporsi kematian yang disebabkan penyakit tidak menular. Diketahui penyakit menular dalam 12 tahun terakhir ini menurun, dari 44% menjadi 28%, sementara itu proporsi penyakit tidak menular justru mengalami peningkatan cukup besar cari 42% menjadi 60%.
Ironisnya lagi, jumlah perokok pada kalangan anak dan remaja meningkat drastis setiap tahunnya. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memperkirakan ada 21 juta anak Indonesia menjadi perokok dan meningkat setiap tahunnya.
Jumlah anak merokok mulai terdeteksi meningkat sejak 2001. Tahun ini diperkirakan ada kenaikan hingga 38% dari jumlah anak yang merokok di Indonesia. Sementara untuk Jakarta, tingkatnya diperkirakan mencapai 80%. Tahun 1995 hanya 7% remaja merokok, lalu 12 tahun kemudian meningkat menjadi 19%.
Riskesdas 2007 juga membuktikan, jenis penyakit masyarakat Indonesia 50% didominasi oleh hipertensi, diabetes, stroke dan penyakit jantung. Bahkan penyakit jantung koroner ternyata secara perlahan-lahan tapi pasti, telah merangkak naik sebagai penyebab kematian utama di Indonesia.
Banyak faktor risiko yang mempengaruhi dan menyebabkan prevalensi penyakit tersebut di atas. Namun para ahli umumnya bersepakat, bahwa faktor risiko utama gaya hidup kebiasaan merokok yang sebenarnya dapat diubah. Dalam rangka semangat berubah ini, PERKI Jaya terpanggil untuk segera mengambil langkah strategis, demi jayanya generasi Indonesia di masa depan.
Setalah mencermati fakta tersebut di atas, serta masukan dari berbagai pihak, dan berdasarkan hasil diskusi pengurus PERKI JAYA dan panitia JCS dalam “Bussines Meeting” pada hari Jumat, 25 Mei 2012 pukul 16.00 WIB, di Ritz Carlton Hotel, maka pada kesempatan “cardiologist gathering” malam ini, kami PENGURUS PERKI JAYA menyatakan :
1.  Kepada seluruh cardiologist anggota PERKI JAYA harus memberi contoh dalam perikehidupan sehari-hari, memberi “suri tauladan” perilaku tidak merokok.
Termasuk sebagai langkah kongkrit merealisasikan komitmen ini, kami merekomendasikan kepada calon Anggota Muda Perki Jaya (Calon PPDS SpJP) harus disyaratkan “bersih” dari perilaku merokok.
2.  PERKI JAYA merekomendasikan kepada pemerintah, dalam hal ini Pemda DKI Jakarta agar bersungguh-sunguh melaksanakan peraturan daerah tentang pengendalian dampak konsumsi rokok seperti Perda Tentang Kawasan Tanpa Rokok agar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan PERDA tsb, dan menegakkan “law enforcement” sesuai ketentuan yang berlaku.
3.  Kepada jajaran pemerintah lainnya, baik instansi militer maupun sipil, perusahaan-perusahaan swasta dan kantor-kantor yang berada di kawasan DKI Jakarta agar berpartisipasi aktif dalam upaya pengendalian dampak negatif rokok terhadap kesehatan jantung.
4.  Kepada para pemangku kepentingan lainnya, termasuk organisasi profesi lain, LSM, semua institusi pendidikan, universitas, sekolah, lembaga pendidikan nonformal lainnya, agar meningkatkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang bahaya rokok bagi kesehatan, khususnya jantung.
Semoga Tuhan tetap senantiasa menyertai dan memberkati kita sekalian!
 
Jakarta, 26 Mei 2012
PENGURUS PERKI JAYA

ttd                                                                            ttd
dr. Dolly RD Kaunang, SpJP, SpKP                                  dr. Daniel PL Tobing, SpJP
KETUA                                                                     SEKRETARIS

Kardiologi Kuantum (7): SINDROMA DA COSTA

“Imagination is more important than knowledge.”— Albert Einstein

“Kuantum adalah paket energi dari gelombang yang tidak tampak oleh pancaindra. Menjelaskan sesuatu yang tidak kasat-mata dengan istilah kuantum adalah sesuatu yang mencerahkan.” Demikian keterangan Renan Sukmawan, seorang insinyur nuklir, dokter-doktor, dan kardiolog-peneliti yang bekerja di Fak. Kedokteran UI dan RSJPD Harapan Kita. Sepertinya ia merujuk mekanika modernnya fisikawan Erwin Schrödinger (1925). Tentu saja gelombang air laut jelas nampak dan nyata karena orang dapat berselancar diatasnya.
Sindroma Da Costa (Da Costa’s syndrome, Cardiac neurosis) [1] adalah prototipe penyakit berkeluhan jantung tetapi kardiolog tidak dapat menemukan penyakit jantungnya. Tidak mudah menyerahkan pasien model ini ke ahli jiwa (psikolog, psikiater) sebab ia merasa sakit jantung dan bukan sakit jiwa! Rasanya banyak kardiolog yang belum pernah menulis diagnosis Sindroma Da Costa,[2] padahal WHO sudah menyiapkan kodenya pada ICD sejak awal abad ke XX. Pertengahan abad XX berubah menjadi neurosis jantung.[3] Pada awalnya diklasifikasikan sebagai “F45.3” (dibawah kode somatoform disorder dari sistim kardiovaskuler) pada ICD-10,[4] dan sekarang diklasifikasikan pada “somatoform autonomic dysfunction” (suatu tipe dari kelainan psikosomatik).
Tulisan ini semoga sebagai “penggugah” bangun paginya kita semua agar memperhatikan sindroma ini, sebab kita memiliki kardiolog yang handal dengan kompetensi dan penguasaan teknologinya yang dapat meyakinkan orang lain untuk menegakkan diagnosis sindroma Da Costa Serta memiliki psikolog untuk menanganinya. Tidak terlalu sulit bagi kardiolog  untuk mendiagnosisnya, tetapi juga tidak mudah untuk mengerti apalagi melakukan psikoterapi, bila diperlukan. Untuk urusan psikoterapi, serahkan saja kepada ahlinya. Tetapi pengetahuan tentang sindroma ini wajib diketahui dari menegakkan diagnosis sampai rencana penatalaksanaannya. Diperlukan kolaborasi kardiolog, psikolog, psikiater, dan ahli psikosomatik untuk menanggulanginya. Penulis memberi semangat agar kardiolog senantiasa berholistik-ekliktik (memilih yang terbaik), berholistik saja terasa masih kurang, sesuai anjuran dari Prof. Kusumanto Setyonegoro, Bapak Psikiatri Indonesia. Marilah kita berwawasan psikologi, tanpa harus menjadi psikolog, berwawasan psikiatri tanpa harus menjadi psikiater. Bahkan harus “rajin” mengirim klien-sehat jantung (Da Costa’s syndrome) kepada psikolog klinik atau psikiater, dan jangan diperiksa macam-macam yang terlalu canggih karena sesungguhnya ia bukan pasien-sakit jantung.
Proklamasi. Di sini pentingnya membedakan klien-sehat dan pasien-sakit jantung. “Klien-sehat jantung adalah domain utama Kardiologi Sosial” adalah ayat-ayat ‘Proklamasi’[5] Budhi S Purwo tanggal 25 Juni 1993, hampir 20 tahun yang lalu, setelah mendapat koreksi dari alm. Prof. R. Boedi-Darmojo dengan menyisipkan kata “utama”. Tulisan tersebut bertepatan dengan dimuatnya tulisan penulisnya pada kolom depan Essay BIDI, Berita Ikatan Dokter Indonesia  No. 12 Tahun ke XIV dengan judul: Klien dan Rumah Sakit yang Health Oriented. Menanggapi dan menyambut seruan Gerakan Masyarakat Baru agar kita semua Health Oriented sesuai dengan seruan KOnggres NASional ke VII IAKMI (Ikatan Akhli Kesehatan Masyarakat Indonesia) di Bandung 1992. Baru tujuh tahun kemudian muncul Visi Indonesia Sehat 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia dimana penduduknya hidup di lingkungan sehat, berperilaku sehat, mampu memperoleh pelayanan kesehatan bermutu, serta adil merata dengan derajat kesehatan optimal.
Apakah Kardiologi Sosial sudah mati hanya karena “badan”-nya atau unitnya  telah lama “dikuburkan” di RSJHK dan Dep. Kardiologi FKUI? Tidak, karena ada mekanisme metamorphosis. Kardiologi Kuantum harus dapat menjawab ketika ada pertanyaan apakah manusia (baca jantung) organo-biologis juga lantas “mati” ketika badannya (jasmani kasarnya) di kuburkan? Freud menjawab YA, titik. Terbujurnya mayat di depan mata sekaligus menandakan sudah matinya sang Ego! Carl Gustav Jung dan Soemantri Hardjoprakoso dalam Candra Jiwa Indonesia menjawab TIDAK, tetapi ada kemungkinan lain. Hipotesisnya adalah lolosnya sang Ego melaui TheGate ke Pusat Imateri yang mengandung hidup itu sendiri. Anggap saja wacana ini adalah hipotesis ilmu pengetahuan yang rentang kebenarannya 0-100, dengan confidence interval statistiknya dapat di kompromikan, misalnya 95% CI dengan probabilitas tertentu, mengikuti jejak ilmu statistik. Ilmu theology dapat mengenal kebenaran sebagai ya dan tidak (0-1) berdasarkan WAHYU Ketuhanan.


Istilah. Tentang istilah “kardiolog yang berorientasi psikologi” (Psychology oriented cardiologist), juga ditentang oleh kardiolog muda yang selalu ingin maju terus dan harus berbeda dengan lainnya, mungkin agar kebebasan dan pencerahannya dapat digali dari situ. Dengan halusnya ia menyodorkan buku Quantum Enigma: Physics Encounters Consciousness (2006) penulisnya Bruce Rosenblum dan Fred Kuttner, diterbitkan oleh Oxford University Press. Adalah Sony Hilal Wicaksono, kardiolog muda, Pemimpin Redaksi Tabloid Kardiovaskuler [6] telah menghimbau kardiolog seniornya untuk memberikan pencerahan. Katanya: “Universitas sudah memiliki Fak. Psikologi. Fak. Kedokteran sudah mempunyai Psikiatri. Dep. Penyakit Dalam juga sudah mendalami Psiko Somatik. Biarkan juga Dep. Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler Indonesia mempelajari Kardiologi Kuantum untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat kardiovaskuler, klien-sehat dan pasien-sakit jantungnya sendiri.” 
Candra Jiwa Dunia. Pendekatan mana yang akan kita pakai untuk mempelajari psike Jiwa (Dimensi-3, Matra-3) Sindroma Da Costa, yang organo-biologis jantung- nya normal? Candra Jiwa Sigmund Freud yang menempatkan EGO-nya manusia selalu terhimpit oleh ID dan SUPEREGO dan tidak ada jalan keluar lagi dari dimensi-3-nya, muter terus di dalam PSIKE-nya? Hanya ada insting libido (seks) dan insting kematian di dalam ID-nya. Tidak pas, karena Freud .. maaf, beliau atheis, sementara bangsa Indonesia “sangat” religius. Walaupun dunia ilmu pengetahuan selalu ingin bebas-sebebasnya berfikir dan berpendapat. Kalau Candra Jiwanya Alfred Adler bagaimana ya? Memang lebih maju dari Freud, ia memandang manusia harus tunduk kepada masyarakat! Sepandai-pandainya seorang manusia masih lebih pandai masyarakat, di masyarakat ada ilmuwan, penguasa-penguasa dunia, dan para nabi. Ia berpendapat justru “daya dorong” majunya pemikiran manusia karena rasa “rendah dirinya” terhadap masyarakat. Tidak menariknya dengan candra jiwa ini karena ia tidak mendeferensiasikan psikenya secara luas, dalam dan tidak berkomentar tentang “kesadaran kolektif” yang “omnipotensi”. Kurang pas untuk membicarakan Cardiac neurosis.
Tentu saja masih ada pilihan yaitu candra jiwanya Carl Gustav Jung. Ia satu-satunya ilmuwan pertama di dunia yang tidak malu-malu lagi untuk menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang religius! (Sangat percaya kepada Tuhan). Bahkan Aku-nya manusia masih ada celah untuk melepaskan dirinya dari SUPEREGO (bisa super baik tapi juga super jahat) dan Das ES (ID) yang asadar. Tentu saja ia sangat berseberangan dan “dimusuhi” Freud dan pengikutnya (Freudian). Bahkan hipotesisnya kepemimpinan Sang Aku,  hanyalah kepemimpinan yang bersifat sementara, kasihan sekali sang Aku yang sering sombong itu! Ia telah menyebut satu istilah PERSONLICHKEIT (Individuation, Pamudaran) kembalinya sadar pribadi (Das Ich) kepada sadar kolektif (DAS SELBST), merupakan perkembangan akhir dari manusia dan kemanusiaannya, bebas tugasnya atau “mati”-nya (pudar, pamudaran) sang Aku. Masih terasa ada tempat di sini untuk meditasi transendental, sebagai bagian dari psikoterapi.
Hipotesisnya tentang INTUISI, ilham, wahyu adalah bertemunya sadar pribadi (Natuur Prinzip) dengan sadar kolektif (Geist Prinzip) sangat menarik. Makin menarik lagi ketika ia menerangkan tentang struktur jiwa manusia seperti konsep Mandala pada Candi Borobudur, intinya yang terpenting ada di tengahnya (perhatikan Diagram Transeden-1). Anehnya, mahasiswa kedokteran FKUI, PPDS kardiologi dan lain-lainnya yang belajar di RS Jantung Harapan Kita, bahkan psikolog atau psikiater (termasuk kardiolog) yang secara kebetulan berdiskusi, tidak tertarik bahkan terkesan kurang paham secara mendalam tentang jati dirinya manusia secara ilmu psikologi mental dan perilaku, sebagai terapan dari suatu filsafat eksistensialisme. Semoga masih ada kesalahan pengamatan sepintas yang mendasar bagi diri saya, dengan segala hormat mohon dapat dimaafkan. Mungkin eksplorasi dimensi-1 dan -2 [7] lebih menjanjikan secara duniawi (baca finansial), tetapi ilmu pengetahuan filsafat (pheno-menon) selalu menuntut lebih dari itu. Yaitu mencari neumenon (beyond) yang terdalam untuk terus-menerus mencari kebenaran sementara sampai ditemukan kebenaran hakiki.
Candra Jiwa Indonesia (CJI) yang mengaku sebagai faktor persekutuan terbesar (FPB) sekaligus sebagai kelipatan persekutuan terkecil (KPK) atas semua pengetahuan tentang candra jiwa yang ada di Indonesia, menjadi pilihan utama dalam kajian Kardiologi Kuantum karena memang berdiri  sejajar dengan candra jiwa dunia lainnya. “Jabang bayi” CJI sungguh asli Bangsa Indonesia hanya “lahirnya” saja di “rumah  sakit” Rijk Universiteit di Negeri Belanda tanggal 20 Juni 1956. Dokter Soemantri Hardjoprakoso memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran Jiwa di Universitas Rijk Universiteit di Leiden, Nederland mendapat predikat cum laude dalam disertasinya yang berjudul Indonesisch Mensbeeld als basis ener Psyco-therapie. Profesor Soemantri Hardjoprakoso lebih mengelaborasi bagian terdalam dari pusat imateri (sebagai pusat HIDUP-nya jantung). Disinilah variabel “hidup” nya jantung menambah wacana bagi Kardiologi Kuantum.

Pusat Hidup Manusia. (baca: jantung dengan SA node-nya yang hidup). Soemantri berbeda dengan ketiga rekannya dari Eropa (Freud, Adler dan Jung), selain menyebut tentang konsep kesadaran juga menyebutkan tentang konsep HIDUP. Merujuk dari cerita dalam film-film Trilogi The Matrix dan Pentalogi Star Wars, penulis mencoba menerangkan isi Pusat Hidup Imateri (D4, lihat Diagram Transenden-1) berdasarkan candra jiwa Indonesia sebagai berikut TreFoil (aslinya Tripurusa) terdiri dari TheSource (aslinya Suksma Kawekas, sumber dan asal mula hidup, sadar kolektif statis), TheForce (aslinya Suksma Sejati, yang menghidupi, sadar kolektif dinamis, utusannya TheSource), dan TheSelf (aslinya Roh Suci, yang dihidupi, sadar pribadi). Egonya manusia (D3) potensial dapat mengembangkan diri (evolusi) dengan introspeksi, introversi kearah sadar pribadi. Kembalinya sadar pribadi ke sadar kolektif (D4) adalah peristiwa pamudaran (personlicheit, individuation menurut Jung). Bagaikan peristiwa kembalinya kuantum sinar (cahaya, nur) kepada sumber dan asalmulanya melalui yang menyinarkan.

Jantung Tentara. Kembali kepada sindroma Da Costa, namanya diambil dari Jacob Mendes Da Costa, seorang dokter ahli bedah yang menemukan sindroma tersebut pertama kali di antara tentara selama Perang Sipil Amerika, yang membawa alat tempur di dadanya. Oleh karena itu, pada awalnya kelainan ini disebut sebagai “jantung tentara” (soldier’s heart) gejala-gejala yang ditemukan pertama kali yaitu suatu kumpulan keluhan jantung yang tidak berhubungan sama sekali dengan kelainan fisiologi. Dalam studinya pada tahun 1871 terhadap 300 tentara, JM Da Costa menambahkan bahwa kondisi tersebut sering muncul setelah panas atau diare. Suatu keluhan jantung dan pembuluh darah itu misalnya sakit dada kiri, berdebar, sesak nafas, keringat dingin, lekas lelah pada kegiatan  rutin sampai stres tetapi jantung dan pembuluh darahnya normal. Ia bahkan tidak  dapat mengikuti kehidupan ketentaraan seperti sebelumnya, walaupun sudah dirawat sebentar di rumah sakit. Apakah faktor penentunya adalah stres pertempuran, kelainan dinding dada, atau sistim syaraf otonomnya, marilah diteliti bersama.
Nah, Divisi Kardiologi Preventif dan Rehabilitasi FKUI/ PJNHK telah menambah wawasan baru primordial preventive dengan Sindroma Da Costa. Mulai saat ini pendekatan Preventif Primordial memiliki beberapa kajian dan wacana yaitu 1) Sindroma Metabolik 2) Pre Diabetik, 3) Kardiomiopati Reversibel Tako Tsubo, dan 4) Sindroma Da Costa (neurosis jantung). Terapinya tentu saja mengubah gaya hidup dan perilaku, psiko terapi, meditasi transenden, dan farmakologi sesuai kebutuhan.
Rasanya benar juga kata Einstein bahwa imajinasi mendahului pentingnya ilmu pengetahuan, lebih jauh lagi ia mengingatkan tentang intuisi sebagai anugerah yang gaib sementara pikiran rasionil hanyalah pembantu yang terpercaya. Semoga Sadar Kolektif (TheForce) memberikan pencerahan untuk kita semua. Salam Kuantum.


Budhi S. Purwo-wiyoto


Kepustakaan
[2]  National Research Council; Committee on Veterans' Compensation for Posttraumatic Stress Disorder (2007). PTSD Compensation and Military Service: Progress and Promise. Washington, D.C: National Academies Press. p. 35. ISBN 0-309-10552-8. Retrieved 2008-05-26. "Being able to attribute soldier’s heart to a physical cause provided an “honorable solution” to all vested parties, as it left the self-respect of the soldier intact and it kept military authorities from having to explain the “psychological breakdowns in previously brave soldiers” or to account for “such troublesome issues as cowardice, low unit morale, poor leadership, or the meaning of the war effort itself” (Van der Kolk et al., as cited in Lasiuk, 2006)."
[3]  Edmund D., MD Pellegrino; Caplan, Arthur L.; Mccartney, James Elvins; Dominic A. Sisti (2004). Health, Disease, and Illness: Concepts in Medicine. Washington, D.C: Georgetown University Press. p. 165. ISBN 1-58901-014-0.
[4]  World Health Organization (1992). Icd-10: The Icd-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders : Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines. Geneva: World Health Organization. p. 168. ISBN 92-4-154422-8.
[5]  Purwowiyoto BS. Kardiologi sosial. Dari rumah-sakit menuju rumah-sehat menyongsong Indonesia Sehat 2010. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kardiologi pada FKUI, tanggal 17 Desember 2003.
[6]  Purwowiyoto BS. Kardiologi Kuantum. Tabloid Profesi Kardiovaskuler 179/Thn.XVII/Januari 2012. ISSN: 0853-8344
[7]  Purwowiyoto BS. Kardiologi Kuantum. Tentang dimensi di alam semesta. Tabloid Profesi Kardiovaskuler 180/Thn.XVII/Februari 2012. ISSN: 0853-8344     

Jakarta Cardiovascular Summit 2012


Sabtu pagi, 26 Mei 2012, saya berkesempatan mengikuti acara Jakarta Cardiovascular Summit di Ritz Carlton Kuningan, Jakarta. Acara yang diadakan oleh Perki Jaya ini  terdiri dari 4 simposium pada hari itu.
Dari ke empat simposium tersebut, simposium ke dua lah yang cukup menarik minat saya. Mengenai “Myocardial Infarction: Opportunities for Better Clinical Outcomes” dengan moderator Prof. Dr. dr. Budhi Setianto SpJP(K) serta ke tiga pembicara yang handal (dr. Nani Hersunarti SpJP(K), Dr. dr. Bambang Budi Siswanto SpJP(K) dan dr. Ginova Nainggolan SpPD KGH).
Pembicara pertama dr. Nani Hersunarti SpJP(K) akan membawakan infark miokard dan gagal jantung peran penting antagonis aldosteron.
Gagal jantung yang diakibatkan oleh infark miokard akut merupakan masalah klinis yang muncul tersendiri. Aldosteron merupakan neurohormon yang mempunyai dampak terhadap elektrolit, yang mana berperan penting dalam progresivitas gagal jantung terutama disfungsi sistolik. Hormon tersebut berperan penting dalam proses remodeling kardiak dan patofisiologi gagal jantung setelah infark miokard.
Studi-studi klinis terutama menganalisis hasil akhir klinis penggunaan antagonis aldosteron yang dilakukan pada dua kelompok dengan subjek gagal jantung. Studi pertama RALES (Randomized Aldactone Evaluation Study) yang dikerjakan pada pasien gagal jantung advans kronik dan memperlihatkan aldosteron antagonis spironolakton mengurangi mortalitas secara signifikan.
Sampai saat ini, spironolakton masih merupakan satu-satunya obat farmakologis yang secara langsung menghambat efek yang kurang baik dari aldosteron. Penggunaan spironolakton haruslah diperhatikan efek samping akibat anti progesteron dan anti androgen, seperti ginekomasti dan ireguleritas menstruasi.
Keunggulan penghambat aldosteron  telah banyak dipublikasikan, dengan penghambat aldosteron selektif, eplerenon memperlihatkan pengurangan mortalitas dibandingkan placebo pada pasien gagal jantung post infark miokard.
Studi EPHESUS (the Eplerenone Post myocardial infarction Heart Failure Efficacy and Survival Study) menunjukkan penurunan yang signifikan pada mortalitas dan hospitali-  sasi pada pasien yang mendapatkan eplerenon secara randomisasi.
Studi ini juga menyatakan keamanan dan ditoleransi baik tanpa adanya peningkatan kejadian ginekomastia, impotensi ataupun gangguan menstruasi, yang memperlihatkan bahwa eplerenone merupakan penghambat aldosteron selektif tanpa aktivasi reseptor progesterone ataupun androgen.

Dr. dr. Bambang Budi Siswanto SpJP(K) dan Prof. Dr. dr. Budhi Setianto SpJP(K)

DR. dr. Bambang B Siswanto SpJP(K) membawakan eplerenon dalam studi EPHESUS dan EMPHASIS-HF.
Berdasarkan studi mengenai gagal jantung yang dilakukan di Indonesia, gagal jantung menjadi penyebab utama tingginya angka readmisi dan mortalitas. Mortalitas di rumah sakit sekitar 6.5-12% dan readmisi dalam follow-up 6 bulan mencapai 29%.
Studi lainnya yang dilakukan di PJNHK memperlihatkan tingginya kadar NT pro BNP, EF < 20%, edema dengan BMI > 30kg/m2, Hb < 12g/dl, Na < 130mmol/L dan tidak menggunakan beta blocker merupakan prediktor readmisi dan mortalitas.
Study EPHESUS tahun 2003 dibuat untuk melihat keunggulan eplerenon pada pasien gagal jantung setelah kejadian infark miokard, dari total 6632 pasien didapatkan 1012 kematian. Dimana studi ini menunjukkan penurunan yang signifikan risiko mortalitas untuk semua sebab sekitar 15% (RR 0.85; 95% CI 0.75-0.96, p = 0.008).
Risiko kematian sebab kardiovaskuler atau hospitalisasi akibat kardiovaskuler secara signifikan mengalami penurunan 13% dibandingkan placebo (RR 0.87; 95% CI 0.79-0.95, p = 0.002). Studi ini memperlihatkan keuntungan pemberian eplerenon dini pada pasien gagal jantung setelah kejadian infark miokard.
Studi EMPHASIS-HF yang dilakukan tahun 2011 bertujuan untuk melihat efek eplerenon pada pasien gagal jantung dengan disfungsi sistolik kronis. Pasien- pasien dengan usia > 55 tahun, EF < 30%, QRS > 130 mdet, hospitalisasi dalam 6 bulan terakhir, BNP >= 250 pg/ml atau NTproBNP >= 500 pg/ml pada pria dan >= 750 pg/ml pada wanita diobservasi selama 15 hari. Dari 2737 pasien yang diberikan eplerenon atau placebo, terdapat 18.3% kematian atau hospitalisasi pada kelompok eplerenon dibandingkan 25.9% kelompok placebo (p < 0.0001).
Pemberian eplerenon menghasilkan penurunan 37% pada hasil akhir kematian oleh sebab kardiovaskuler ataupun hospitalisasi karena gagal jantung, 24% penurunan mortalitas oleh sebab apapun, 23% penurunan hospitalisasi oleh sebab apa-pun. Sehingga penggunaan eplerenon pada gagal jantung setelah kejadian infark miokard berguna untuk menurunkan mortalitas dan rehospitalisasi gagal jantung.

Dr. dr. Bambang Budi Siswanto SpJP(K), dr. Nani Hersunarti SpJP(K) dan dr. Ginova Nainggolan SpPD KGH

dr. Ginova Nainggolan SpPD-KGH memberikan suatu wawasan hipotesis kardiorenal dengan peranan ginjal pada gagal jantung.
Dalam peranannya ginjal memang dapat berperan menyebabkan gagal jantung akut, yang akan dilihat di kardiorenal tipe 1. Dimana sindroma kardiorenal tipe 1 terdapat peningkatan perburukan fungsi kardiak yang mengakibatkan injuri ginjal akut (AKI).
Mekanisme untuk terjadinya kardiorenal tipe 1 melibatkan jalur yang kompleks dan multipel. Kepentingan klinis tiap mekanisme sepertinya berbeda dari individu satu dengan yang lainnya dan dari situasi satu ke situasi lainnya.
Pada gagal jantung akut, AKI sepertinya lebih parah pada pasien dengan gangguan fraksi ejeksi ventrikel kiri dibandingkan dengan fungsi ventrikel kiri yang normal. Prinsip klinis pertama dari kardiorenal tipe satu adalah onset AKI yang terjadi merupakan akibat rendahnya perfusi ke ginjal sampai dugaan lainnya tidak terbukti.
Kedua, adanya penurunan respon diuretik, dimana berakibat kegagalan diuretik (diuretic braking) dan retensi natrium post diuretik. Beberapa penanda biologis yang dapat digunakan untuk melihat kejadian AKI diantaranya, kreatinin, NGAL, KIM1, ataupun sistatin-C.
Kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab yang isi pertanyaan yang mengarah pada peran eplerenon terhadap kejadian infark miokard pada pasien dengan gagal jantung dan mekanisme terjadinya AKI serta obat yang dapat mencegah progresivitas kerusakan ginjal pada gagal jantung.
SL Purwo