pita deadline

pita deadline

Selasa, 20 November 2012

Efek Celecoxib pada Restenosis setelah Intervensi Koroner dan Evolusi Aterosklerosis (Studi Mini-COREA): Celecoxib, Dua Mata Pisau pada Pasien Angina

DRUG eluting stents (DES) mengurangi insidens angiografi restenosis pada stent dan revaskularisasi ulang. Walaupun demikian, mayoritas komplikasi PCI dengan DES masih dengan masalah in stent restenosis.
Celecoxib merupakan inhibitor COX-2 yang sering kali digunakan sebagai anti inflamasi. Akan tetapi, obat itu juga memperlihatkan efek antiproliferatif dan menginduksi apoptosis pada sel kanker.
Studi lain memperlihatkan celecoxib sebagai inhibitor yang potensial dari formasi neointima dengan cara menghambat aktivasi Akt yang diinduksi injuri. Studi COREA-TAXUS memperlihatkan penggunaan tambahan celecoxib selama 6 bulan setelah implantasi stent TAXUS-EXPRESSTM dengan penyakit arteri koroner secara signifikan menurunkan kejadian in stent luminal late loss (LL).
Pada studi follow up jangka panjang COREA-TAXUS memperlihatkan bahwa celecoxib yang diberikan selama 6 bulan memberikan hasil akhir klinis yang lebih baik selama 2 tahun dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Selama 2 tahun, tingkat kejadian kardiak yang tidak diinginkan secara konsisten lebih rendah pada kelompok celecoxib (6.9%) dibandingkan dengan kelompok kontrol (19.7%).
Pada sistem DES, seperti paclitaxel atau zotarolimus, dimana mengelusi dalam 4 minggu pertama untuk menginhibisi proliferatif dini dari sel otot polos setelah implantasi stent. Celecoxib mungkin menginhibisi proliferative tidak hanya sel otot polos vasskuler namun juga sel endotel serta sel progenitor endotel.
Penggunaan celecoxib setelah fase akhir penyembuhan pada implantasi DES mungkin memperlambat penyembuhan lapisan endotel setelah intervensi koroner dan mengganggu keseimbangan antara progtaglandin dan tromboksan, dimana dapat meningkatkan risiko thrombosis.
Untuk mengevaluasi kefektifan dan keamanan pemberian tambahan celecoxib selama durasi 3 bulan dalam hal mengurangi hyperplasia intima pada pasien dengan implantasi PES Taxus-liberteTM atau ZES  EndeavorTM dilakukanlah studi oleh Kang et al.
Pasien (n = 909) yang diterapi pada lesi arteri koroner dirandomisasi dalam 4 kelompok: kontrol atau kelompok celecoxib dengan stratifikasi yang menggunakan jenis stent: stent paclitaxel (PES) atau zotarolimus (ZES).
Pada kelompok celecoxib, 200 mg dosis celecoxib diberikan tiga kali sehari selama 3 bulan setelah tindakan. Endpoint primer adalah LL pada enam bulan. Instent LL secara signifikan lebih rendah pada kelompok celecoxib dibandingkan kelompok kontrol (0.64 ± 0.54 vs 0.55 ± 0.47 mm; p = 0.02).
Tren penurunan LL pada kelompok celecoxib tetap pada sub kelompok ZES dan PES, walaupun tidak mencapai hasil yang signifikan secara statistik. Terdapat tren penurunan secara klinis pada lesi target revaskularisasi (TLR) selama 6 bulan pada  kelompok celecoxib (5.7 vs 3.2%, log rank p = 0.09), tetapi tingkat kejadian kardiak yang tidak diinginkan tidak berbeda di antara kedua kelompok (kematian kardiak, infark miokard non fatal dan TLR; 8.6 vs 7.7%; log rank p = 0.84).
Infark miokard non fatal dan kematian kardiak terjadi pada 1.6% pasien kelompok celecoxib ketika dibandingkan dengan kelompok kontrol (log rank p = 0.33). Sehingga dapat dikatakan selama tiga bulan pemberian celecoxib mungkin dapat berguna dalam mengurangi LL dari DES. Walaupun studi ini mungkin akan meningkatkan risiko trombosis pada celecoxib dan  lebih lagi pada pasien yang menerima dual antiplatelet. (European Heart Journal 2012; 33: 2653-61)

SL Purwo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar