pita deadline

pita deadline

Rabu, 25 Juli 2012

Visi, Misi dan Tantangan PERKI Periode Tahun 2012-2014

Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni SpPD, SpJP(K), FIHA, FAsCC
 
JUM'AT, tanggal 28 Juni 2012 pukul 06.45WIB bertempat di hotel Menara Peninsula Jakarta, saya (SLP) berkesempatan mewawancarai presiden terpilih PERKI masa jabatan 2012-2014, Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni SpPD, SpJP(K) [RR] seputar visi, misi, pandangan dan tantangan presiden PERKI terpilih periode 2012-2014. Berikut cuplikannya:

SLP:     Apakah visi dan misi PERKI sekarang sama dengan PERKI pimpinan sebelumnya, Prof?
RR:     Ya, visi dan misi kita sudah termuat dalam renstra, renstra itu kita ikuti, hanya dalam program kerjanya kita fokuskan, mau tidak mau suka atau tidak kita lakukan sesuai renstra, PERKI akan menjadi salah satu organisasi profesi dokter spesialis kardiologi terbaik di Asia, selain itu program kerja adalah hasil keputusan dari konggres.

SLP:     Apakah ada hal berbeda yang mungkin Prof akan lakukan dengan jabatan saat ini?
RR:     Secara Prinsip tidak ada. Pada periode kali ini, kami meneruskan program kerja yang belum tuntas. Selain program yang kita lakukan dari renstra, kami juga mempunyai program unggulan yang menekankan pada program promotif dan preventif dalam bidang kardiovaskuler. Apa yang harus kita lakukan untuk mensukseskan program unggulan ini? Yaitu kita bekerja­sama dengan pemerintah karena kita adalah mitra pemerintah, tanggal 8 Juli 2012 saat pelantikan nanti akan ada MoU mengenai hal tersebut dengan Mendiknas, Menkominfo, Kepala BKKBN dan Wamenkes. Selain itu juga kami memiliki pilar kerja yaitu Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita yang akan  kami coba untuk merevitalisasi kembali. Selain itu ada program unggulan lainnya, yaitu penyebaran kardiolog di daerah, saya mempunyai harapan produksi  kardiolog pertahun 150 SpJP dengan senter Jakarta menyumbang 30 SpJP, Surabaya 20 lulusan, dan sisanya senter-senter lain memberikan 10 SpJP sehingga total 150 kardiolog baru. Karena kita didesak oleh pemerintah untuk penyebaran kardiolog-kardiolog di daerah. Dalam periode saya ini rencananya akan dibentuk dua atau tiga senter kardiologi baru, diantaranya Riau, Samarinda, Aceh dan Banjarmasin. Harapan saya juga di Palembang akan didirikan senter kardiologi. Penempatan kardiolog baru tersebut akan mendapatkan rekomendasi dari PERKI untuk diberikan ke Dinkes setempat, sehingga dinkes tersebut dalam mengelola penempatan kardiolog sesuai rekomendasi PERKI.
Fakta yang ada di Indonesia bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler masih tinggi. Di Negara maju, angka  kematiannya sudah menurun di bawah 10%, akan tetapi di Indonesia justru masih tinggi yaitu di atas 20%. Dengan demikian kita perlu juga untuk membuat program penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler di Indonesia menjadi di bawah 10%.

SLP:     Bagaimana langkah awal Prof dalam mengelola organisasi PERKI?
RR:    
Tentu yang pertama adalah konsolidasi sesama teman-teman dan sinkronisasi pengurus dan kordinasi sehingga terbentuk manajemen modern. Maksudnya adalah setiap departemen membuat satu program kerja dan anggaran serta sistem pelaporan yang terstandarisasi. Jadi tahap awal kita rapat kemudian membuat program kerja dan anggaran, melakukan revisi oleh pimpinan pusat dan melakukan prioritas, kita akan lihat performance index dari tiap-tiap departemen, ke daerah-daerah kita akan mencoba melalui sistem teleconference.

SLP:     Dalam menjalankan roda organisasi PERKI, apa prioritas yang akan Prof benahi?
RR:
     Pertama adalah saya akan menjalankan manajemen modern, setelah itu kita bisa menjalankan program kerja, anggaran sehingga kami tinggal mengevaluasi. Pemimpin bukan merupakan sistem “one man shows” tapi kita sebagai suatu sistem kepengurusan yang memiliki job description masing-masing.

SLP:     Apa cita-cita Prof untuk kemajuan PERKI yang berbeda dengan kepemimpinan sebelumnya?
RR:
     Saya rasa sama, cuma program saja yang mungkin berbeda. Mengenai program ilmiah, saya pikir sudah berjalan sangat bagus dan tetap dipertahankan yaitu ASMIHA kerjasama dengan pihak luar, yang tetap akan kita bina, kita perbesar kerjasama dan kita perbaiki. Yang mungkin terlewatkan adalah program kemasyarakatan yang maaf “untuk bangsa ini apa yang kita lakukan?” Kita akan bekerjasama dengan media cetak seperti JawaPos dan rencananya akan ada LSM yang akan kita rangkul, juga dengan YJI mengenai program unggulan kita promotif dan preventif.

SLP:     Seperti apa konsep organisasi PERKI yang Prof inginkan, selain dari manajemen modern dan preventif-promotif?
RR:    
Yang pasti, yaitu pendidikan dan  ilmiah, pertama saya mempunyai keinginan pendidikan kardiologi memiliki standarisasi kurikulum yang sama pada semua pendidikan di Indonesia, sementara ini peran dari kolegium masih belum dilaksanakan dengan optimal. Kesan sepintas kurikulum Jakarta dipaksakan ke seluruh Indonesia, itu yang tidak benar. Misal penyakit dalam di Jakarta 6 bulan, sedangkan di Surabaya 1 tahun, sehingga terjadi perbedaan. Sebisa mungkin masalah itu dibicarakan, sehingga tidak ada perbedaan lulusan darimana SpJP itu berasal. Karena kita sebagai pusat pendidikan sudah diakreditasi sehingga masalah ini bisa kita atasi. Kedua, saya ingin ada international board examination,  setiap ujian saya ingin ada penguji asing baik dari Malaysia, Singapura atau Filipina. Sehingga pandangan internasional terhadap negara Indonesia baik dikarenakan pendidikannya sudah terakreditasi secara internasional, SpJP Indonesia juga diakui di luar, sama seperti ortopedi dan urologi yang memiliki ujian internasional. Kita dapat standarisasi nasional dan sekaligus internasional minimal ASEAN. Saya memiliki empat program unggulan, diantaranya sudah saya  sebutkan sebelumnya, manajemen modern, promotif preventif, pendidikan kurikulum dan penyebaran kardiolog.

SLP:     Tantangan apa yang mungkin Prof hadapi di kemudian hari sebagai ketua PERKI?
RR:
     Ya, yaitu kebersamaan teman-teman, saya tidak menutup mata bahwa teman-teman memiliki pekerjaan masing-masing. Akan tetapi bagi teman-teman yang sebagai pengurus pasti butuh suatu pengorbanan, saya apresiasi bahwa teman-teman yang mau bekerja di sini (PERKI) dengan segala konsekuensinya. Jabatan dengan konsekuensinya maaf seperti waktu praktek jadi lebih berkurang, uang dan pikiran mungkin juga keluar, tetapi siapa lagi yang akan memajukan dan membesarkan PERKI ini kalau bukan kita-kita ini. Sementara ini, yang saya tahu hanya ada segelintir orang saja yang berperan aktif. Yang sering kita lihat, orang hanya sebagai komentator tanpa mau memberikan kontribusi yang nyata pada PERKI, bahkan pengurus pun hanya memberikan usul tanpa mau untuk berperan aktif dalam PERKI, usul maupun komentar semua bisa tapi yang saya inginkan adalah jalan keluar bagaimana caranya mengatasi dan berperan aktif dalam perkembangan PERKI.

SLP:     Menurut Prof apa ada jalan terbaik mengenai masalah kompetensi SpPD-KKV yang mungkin saat ini bermasalah dengan kardiologi?
RR:    
Ya, jadi begini, sebetulnya itu persoalan Jakarta dan Palembang, terutama Jakarta. Jadi problemnya karena hanya di RSCM tidak ada orang dari departemen  kardiologinya. Orang-orang departemen kardiologi pada waktu yang lalu banyak yang hijrah ke RS Jantung Harapan kita. Apa jalan keluarnya? Sudah saya sampaikan kepada DIKNAS, bahwa pendidikan S1 dan pendidikan S2 (SpJP) adalah departemen kardiologi dan tetap di RSCM karena sesuai dengan struktur organisasi dari FK UI, dan RS Jantung Harapan Kita adalah RS mitra untuk pendidikan kardiologi FK UI. Secara prinsip dan de yure tidak boleh ada program pendidikan penyakit jantung yang dilakukan oleh dua institusi. Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman PAPDI untuk memfa’atkan peluang pendidikan bagi teman-teman interne yang mau menjadi ahli penyakit jantung, mereka akan kami fasilitasi sehingga tidak ada dualisme dan kerancuan dalam pelayanan penyakit jantung di masyarakat, khususnya tentang masalah kompetensi yang dikaitkan dengan masalah hukum. Ke depan, kita harus realistis oleh karena perkembangan ilmu kedokteran akan diikuti dengan kemampuan skill serta teknologi yang maju pesat. Tidak mustahil nanti sub bagian endokrin dan sub bagian nephrologi kalau ingin maju harus menjadi departemen. Kita lihat sebelumnya departemen bedah umum yang sebelumnya sub bagian bedah orthopedi dan urologi sekarang sudah menjadi departemen orthopedi dan urologi. Mari kita berpikir ke sana supaya Indonesia menjadi lebih maju dalam ilmu kedokteran.

SLP:     Apa harapan Prof untuk Tabloid Kardiovaskuler?
RR:
     Untuk saat ini sudah bagus, mungkin bisa ditambah kolom surat pembaca dari kardiolog di daerah sehingga kita dapat mengetahui kemauan di daerah, mungkin juga dapat ditambah mitra bestari di daerah, sebisa mungkin isi tabloid tidak muluk-muluk, kalau bisa mengenai update ilmu.
(SL Purwo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar