pita deadline

pita deadline

Kamis, 04 Juli 2013

Tingkat Tekanan Darah, Risiko Kejadian Kardiovaskuler dan Mortalitas pada Pasien DMT2

(Suatu Studi Kohort)

PENURUNAN agresif tekanan darah (BP) merupakan aspek terpenting dari pengobatan diabetes yang sesuai dengan UKPDS dan HOT (Hypertension Optimal Treatment), dimana mengindikasikan prognosis yang baik dengan penurunan BP pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2). Studi dan meta analisis terbaru menyebutkan penurunan SBP dibawah 130 mmHg mungkin akan melindungi terhadap terkenanya stroke, tetapi tidak mengurangi risiko infark miokard atau mortalitas maupun morbiditas kardiovaskuler secara keseluruhan.
Hubungan antara kurva U atau J pada SBP dan DBP terhadap mortalitas telah diamati dalam studi-studi terda-hulu. Hubungan BP terhadap risiko kejadian kardiovaskuler sepertinya menyerupai kurva U atau J pada pasien dengan DMT2.
Untuk mengetahui bentuk kurva terhadap hubungannya SBP dan DBP dengan risiko kejadian kardiovaskuler serta mortalitas pada pasien DMT2 dalam populasi besar di perawatan primer dilakukanlah  studi oleh Johan et al.
Studi ini menggunakan 34009 pasien konsekutif penyakit kardiovaskuler dengan DMT2, usia 35 tahun atau lebih tua (usia rerata 64 tahun) pada 84 pusat perawatan   primer di daerah pusat Swedia antara tahun 1999 dan 2008. Dilakukan follow up sampai tahun 2009 pada registri nasional untuk   insidens kejadian mayor kardiovaskuler (hasil keluaran berupa infark miokard, stroke, gagal jantung atau mortalitas kardiovaskuler) ataupun total mortalitas.
Selama 11 tahun follow up, 6344 pasien (18.7%) memiliki kejadian kardiovaskuler primer dan 6235 pasien meninggal (18.3%). Hubungan tahunan yang dilihat dari SBP dan DBP dengan risiko kejadian kardiovaskuler mayor berupa kurva berbentuk U. Risiko terendah kejadian kardiovaskuler diamati pada SBP 135-139 mmHg dan DBP 74-76 mmHg, dan mortalitas terendah pada SBP 142-150 mmHg dan DBP 78-79 mmHg, juga pada penggunaan obat antihipertensi yang tidak diberikan dan pada pemberian obat antihipertensi.
Faktor perancu status sosioekonomi merupakan penjelasan yang mungkin untuk menjelaskan tingginya risiko distribusi BP pada batas bawah. Rendahnya SBP sesuai pola harian dihubungkan dengan rendahnya status sosial, fisik dan mental serta prevalens yang tinggi dengan anxietas dan depresi pasien-pasien tersebut.
Pada beberapa studi terdahulu, bentuk kurva U atau J yang dihubungkan dengan BP terhadap mortalitas telah diamati pada satu tahun pertama follow up penelitian, tetapi hubungan linear didapatkan pada periode waktu yang lama. Hal ini mungkin disebabkan karena kausa terbalik, yang ada pada penyakit sebelumnya dimana menimbulkan rendahnya BP dan mortalitas. 
Kurva bentuk U pada DBP yang dihubungkan dengan mortalitas penyakit jantung koroner telah diamati. Karena miokardium diperfusi selama diastolik, aliran darah koroner  fase diastolik yang rendah yang diakibatkan dengan rendahnya DBP aorta yang mungkin menjadi mekanisme patogenetik tersebut, terutama terdapat pada pasien dengan low coronary flow reserve.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan, pada sampel berdasarkan perawatan primer yang besar pasien-pasien DMT2, didapatkan hubungan SBP dan DBP dengan risiko mayor kejadian kardiovaskuler serta mortalitas berupa bentuk kurva U. Hasil ini mempunyai implikasi untuk stratifikasi risiko dari pasien DMT2.(J Hypertension 2013; 31: 1-8)

SL Purwo

SEJARAH KARDIOLOGI (I)

“Lapangan kardiologi sebegitu luasnya, hingga bagi para Internis Umum tak mungkin lagi dapat tetap mengikuti dan menguasai kemajuan-kemajuan dalam lapangan ini”. (Gan Tjong Bing, 1957)

DEPARTEMEN Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI (dulu Bagian Kardiologi FKUI) yang berlokasi di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita/Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jalan S Parman Kav.87, Slipi-Jakarta ini adalah salah satu unsur Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Kardiovaskular).
Bila ditelusuri jauh ke belakang, sebelum tanggal 10 Nopember 1976 (yang kini diperingati sebagai tanggal kelahiran Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI) mempunyai pengalaman sejarah yang penuh dengan perjuangan dan tantangan dalam pengembangannya.

Perkembangan Ilmu Kardiologi
Menyimak perkembangan Ilmu Kedokteran tidak dapat dilepaskan dari kiprah para ilmuwan yang berkecimpung dalam kedokteran, demikian juga perkembangan ilmu kardiovaskular yang pada tahun 1957 masih diberi istilah ilmu kardiologi. Perkembangan suatu ilmu sebagai proses belajar tidak dapat dipungkiri hanya dapat dikembangkan melalui suatu institusi pendidikan yang bernama Fakultas Kedokteran sebagai bagian dari suatu pendidikan dari suatu Universitas. Percabangan Ilmu kedokteran yang pada awalnya merupakan pendidikan akademik dan profesi menghasilkan lulusan dokter, atau dokter umum. Selanjutnya berkembang menjadi dokter ahli atau spesialis sebagai perkembangan dari kedokteran medikal dan surgikal. Pendidikan medikal yang tadinya menghasilkan dokter ahli penyakit dalam (internis) dan dokter ahli bedah. Tidak dapat dipungkiri pengembangan ilmu dan teknologi telah turut memacu pekembangan di bidang ilmu penyakit dalam maupun anak, sehingga memberi imbas pada perkembangan di tanah air.

PERKEMBANGAN ILMU KARDIOLOGI DALAM URUTAN TAHUN
* 1954    Kuliah dan demontrasi klinik penyakit jantung
* 1956    Kateterisasi jantung di RS Yang Seng Ie
             Pemeriksaan Angiokardiografi kontras
             Poli khusus jantung di RSCM
             Pembedahan jantung tertutup di RS Carolus oleh Pouw Houw Die
             Pembedahan mitral stenosis di RSCM (Soekaryo)
             Penelitian epidemiologik penyakit jantung Ong Sie Tjong, Soehardo
* 1957    16 Nov 1957, PERKI didirikan
             Pemeriksaan Elektro kardiografik Hantaran I, II, III secara rutin oleh dokter
             Pembuatan EKG oleh paramedik
             Pembuatan EKG dilengkapi Unipolar
             Untuk anak ditambah CV3 kanan
* 1957 -1960 Pemeriksaan EKG menjadi suatu ilmu pengetahuan
* 1958    Kateterisasi jantung di RSCM
             Pemeriksaan Asto, PH dan Elektrolit
* 1959    Poli khusus jantung anak di RSCM
* 1960    Pemeriksaan analisa Radiologik dengan Barium
             Pemeriksaan sinar oleh ahli jantung
* 1961    Pembedahan jantung terbuka dengan hypotermi di RSCM oleh Dr. Irawan Santoso
* 1964    Pendidikan khusus ahli kardiologi
* 1964    Penyelidikan experimentil pada  anjing, ISF Ranti dkk
* 1964   Penelitian bising jantung dan apus tenggorok kuman streptococcus beta hemolistikus murid SD Suleiman dkk
* 1964    Kateterisasi jantung di RSPAD
             Pemeriksaan dengan phonokardiografi, di RSCM
* 1969  Pembedahan jantung terbuka dengan mesin jantung paru di RSCM, Lembaga Kardiologi Nasional oleh Dr. Irawan Santoso, Dr. Surarso dkk. 

(BERSAMBUNG)
(Untuk baca artikel sambungannya, klik disini)

Pre Diabetes, Saatnya Memulai Terapi

TAHUN 1997 dan 2003 The Expert Committee on Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus mengetahui adanya kelompok pertengahan dengan tingkat gula darah di antara normal dan tinggi walaupun tidak memenuhi kriteria DMT2, sehingga tidak dapat dikatakan terlalu tinggi untuk suatu keadaan normal.
Kondisi-kondisi ini dapat berupa glukosa darah puasa terganggu (100-125 mg/dl) atau toleransi glukosa yang terganggu (140 – 199 mg/dl). Individu-individu tersebut disebut sebagai pre diabetes, mengindikasikan risiko yang relatif tinggi untuk terjadinya DMT2 di masa depan
DMT2 dan penyakit non infeksi menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global. Sekitar 285 juta penduduk, atau berkisar 6.4% populasi dewasa dunia terkena diabetes. Diperkirakan mencapai 285 juta penduduk pada tahun 2030, 7.8% dari populasi dewasa dunia, dengan wilayah Afrika diperkirakan mencapai peningkatan yang terbesar. Segmen yang lebih luas lagi dari populasi dunia, diperkirakan mencapai 79 juta individu Amerika Serikat akan mengalami pre diabetes.
Faktor-faktor multipel seperti predisposisi genetik, resistensi insulin, peningkatan sekresi insulin, glukotoksisitas, lipotoksisitas, terganggunya pelepasan inkretin, akumulasi amylin dan penurunan masa sel B berperan dalam penyebab kausatif progresivitas disfungsi sel B sebagai karakteristik pre diabetes.
Beberapa studi randomisasi terkontrol menunjukkan individu dengan risiko tinggi untuk terjadinya DMT2, secara signifikan mengalami penurunan untuk terjadinya DMT2 dengan dilakukan intervensi yang tepat. Termasuk didalamnya modifikasi gaya hidup yang intensif dan penggunaan farmakologis metformin, peghambat alfa glukosidase, orlistat dan tiazolidinedion, setiap usaha tersebut menunjukkan penurunan insiden diabetes dengan derajat yang berbeda.
Intervensi yang mencegah progresi DMT2 seharusnya memperlambat atau mencegah kegagalan sel B. Penggunaan metformin seharusnya dipertimbangkan sebagai terapi awal pada pasien yang tidak bisa dikontrol gula darahnya dengan modifikasi gaya hidup atau bagi yang tidak efektif dalam mengurangi progresivitas DM tipe 2.
DMT2 merupakan 90% dari kasus diabetes dan dihubungkan dengan komplikasi makro dan mikrovaskuler dengan tingginya morbiditas dan mortalitas. Dikatakan  individu dengan peningkatan risiko untuk terjadinya DMT2 adalah dengan glukosa puasa yang terganggu (IFG), toleransi glukosa yang terganggu (IGT) ataupun kondisi keduanya. Individu tersebut termasuk dalam kelompok pre diabetes.
Kurang lebih sekitar 25% dari individu tersebut akan menjadi DMT2 dalam tiga sampai lima tahun. Hiperglikemia juga dihubungkan dengan peningkatan risiko   penyakit kardiovaskuler walaupun tanpa kondisi diabetes. Studi menunjukkan perubahan gaya hidup dan intervensi obat berguna dalam memperlambat atau mencegah DMT2 pada pasien pre diabetes.
Metformin merupakan pilihan obat yang dapat digunakan. IGT dan IFG dihubungkan dengan DMT2 dan kebanyakan studi menunjukkan pentingnya kondisi tersebut dalam perkembangannya menjadi penyakit makro dan mikrovaskuler. Intervensi terapeutik pada pasien pre diabetes merupakan prevensi primer yang penting dari DMT2 dan komplikasi kronisnya. (Endocrine 2013;43(3):504-13, Diabetes Care 2013; Suppl 1(36):1-50) 
SL Purwo