pita deadline

pita deadline

Rabu, 16 November 2011

Prediktor Kejadian SKA pada Pemeriksaan CT-Scan

DEWASA ini pemeriksaan CT scan telah menjadi salah satu modalitas diagnostik pada penyakit jantung koroner (PJK). Memang, dibandingkan dengan kateterisasi yang merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard), CT scan menawarkan beberapa keuntungan, salah satunya adalah non invasif. Sedemikian populernya modalitas ini, membuat beberapa rumah sakit menawarkan pemeriksaan calcium score (CCS) sebagai salah satu pemeriksaan penyaring PJK pada paket-paket medical check-up tertentu. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pemeriksaan CT scan pembuluh darah koroner yang lengkap terdiri dari dua tahap, yakni pemeriksaan calcium score (tanpa zat kontras) dan angiorafi koroner (dengan zat kontras).
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa CCS berbanding lurus dengan proses aterosklerosis pembuluh darah koroner, semakin tinggi nilainya, yang menandakan deposit kalsium pada dinding pembuluh darah, maka semakin berat juga proses aterosklerosis. Selain itu, dengan CCS dapat ditentukan prognosis pasien tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat petanda lain pada pemeriksaan angiografi koroner yang dapat memperkirakan timbulnya sindroma koroner akut (SKA), yaitu soft plaque (SP) atau low-attenuation plaques (LAP) dan positive vessel remodeling (PR).
Penelitian yang dilakukan Motoyama dkk menunjukkan bahwa temuan LAP dan PR pada pemeriksaan CT angiografi koroner berkaitan erat dengan timbulnya SKA di masa mendatang. Studi ini dilatarbelakangi fakta bahwa karakteristik lesi koroner penyebab SKA (culprit lesion) mencakup LAP dan PR, akan tetapi hingga saat itu belum ada penelitian yang menunjukkan hubungan prospektif antara kedua karakteristik lesi tersebut dengan SKA. Sebanyak 1,059 pasien yang menjalani CT angiografi koroner diikutkan dalam studi ini. Hasil CT scan dianalisis untuk menentukan ada atau tidaknya LAP dan PR yang dikaitkan dengan timbulnya SKA di masa mendatang. Masa observasi berkisar antara 17 hingga 37 bulan.
Dari 45 pasien yang memiliki karakteristik plak dengan LAP dan PR (keduanya), timbul SKA pada 10 pasien (22.2%), jauh lebih tinggi dibanding 1 (3.7%) kejadian SKA pada pasien yang hanya memiliki salah satu karakteristik tersebut. Pada kelompok pasien tanpa LAP maupun PR tapi dengan angiografi abnormal, SKA hanya terjadi pada 0.5% kasus, sedang pada 167 pasien dengan hasil angiografi yang normal, tak satupun yang terkena SKA selama masa observasi. Disimpulkan, pasien dengan karakteristik PR dan LAP pada pemeriksaan CT angiografi koroner merupakan kelompok risiko tinggi terkena SKA di masa mendatang dibanding kelompok tanpa karakteristik tersebut.
Walaupun CT scan telah terbukti memiliki manfaat dan keunggulan tersendiri dalam diagnosis dan tatalaksana PJK, tetap harus dipertimbangkan faktor biaya, efek samping penggunaan zat kontras dan bahaya radiasi setiap akan melakukan pemerikaan tersebut. Perlu diketahui bahwa tingkat radiasi pemeriksaan CT scan koroner lengkap mencapai ratusan kali radiasi pemeriksaan foto toraks. Untuk itu, setiap pemeriksaan hendaknya didasarkan atas petunjuk dokter sesuai indikasi yang ada, termasuk untuk pemeriksaan calcium score.

(J Am Coll Cardiol 2009; 54(1): p.49-57.
Estu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar