pita deadline

pita deadline

Jumat, 28 April 2017

Sejarah Pendidikan Kardiologi: Memperjuangkan Amanat Founding Fathers

“Lapangan kardiologi sebegitu luasnya, hingga bagi para Internis Umum tak mungkin lagi dapat tetap mengikuti dan menguasai kemajuan­-kemajuan dalam lapangan ini” (Gan Tjong Bing, 1957)


BEGITULAH salah satu pernyataan pendiri dan ketua Perki pertama, dr Gan Tjong Bing pada tanggal 16 Nopember 1957. Pada saat itu, masih dalam suasana mempertahankan kemerdekaan dan gejolak revolusi, dunia kedokteran Indonesia juga menggeliat. Dr Gan yang baru kembali dari luar negeri saat itu memaparkan bahwa “Per kembangan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI tidak dapat dipisahkan dari Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah di Indonesia yang mulai berkembang pada tahun lima puluhan”.
“Pada saat itu, secara kelembagaan Perki menjadi lebih kuat dan berkembang. Itu karena ilmu jantung yang berkembang terus menerus, yang tidak mungkin lagi jika hanya ditampung oleh lingkup penyakit dalam saja,” kata Prof  Dr dr Rachmat Romdoni, tokoh ahli jantung dari RS Universitas Airlangga, Surabaya.
Para founding fathers dan sejumlah tokoh kedokteran Indonesia kemudian merintis dan meletakkan dasar-­dasar keilmuan kardiologi. Sejarah perkembangan ilmu kardiologi terbagi dalam 4 periode. Yaitu periode Perintis, periode Lembaga Kardiologi Nasional (LAKARNAS), periode Bagian Kardiologi di RSCM dan periode Bagian/Departemen Kardiologi di RS Jantung Harapan Kita (Buku Jejak Kardiologi 1957-­2005, Prof  Dr dr Dede Kusmana --ed)

Periode Perintis, 1957 - 1964
Pada periode ini, penyelenggaraan pendidikan kardiologi berlangsung di RSCM. Pada awalnya, dalam satu angkatan hanya terdapat 1 sampai 2 orang peserta atau asisten ahli. Ketika itu belum terdapat program, kurikulum dan tahapan pendidikan yang jelas. Pendidikan pada tahap ini bersifat magang dimana seorang peserta atau asisten ahli biasanya hanya mengikuti kegiatan konsulen atau dokter ahli. Para peserta atau asisten dididik harus belajar semi-­mandiri.
Namun, mereka juga dengan gigih belajar hingga ke Luar Negeri. Salah satu staf yang pertama kali dapat menikmatinya adalah dr Sukaman pada periode 1959-­1961 di Amerika Serikat, dr Asikin Hanafiah ke London pada 1961­-1962. Dr Tagor G.M. Siregar dan dr Loethfi Oesman ke Kanada pada 1966-­1967.

Periode Lembaga Kardiologi Nasional (LAKARNAS),  1965-1975
Sejak 1960­an, para dokter jantung menginginkan terwujudnya suatu lembaga resmi yang dapat mewadahi segala aktivitas keilmuan dan profesi kardiologi. Keinginan itu tercapai dengan dibentuknya Lembaga Kardiologi Nasional (LAKARNAS) pada 17 Agustus 1965. Pada waktu itu semua tenaga di bidang kardiologi ditugaskan bekerja di LAKARNAS. Maka semua kegiatan Kardiologi, baik itu pelayanan, penelitian, kuliah, demonstrasi serta ujian mahasiswa dilaksanakan dokter­-dokter LAKARNAS.
Pada periode ini keadaan bagian Kardiologi masih sederhana, menyebabkan keterbatasan tersedianya sarana dan dana untuk penelitian. Walau demikian, semangat untuk berbenah dan berprestasi tetap tinggi. Pada periode inilah konsep kurikulum pendidikan kardiologi digodog dan dibahas sehingga menghasilkan suatu kurikulum yang community oriented. Konsep ini merupakan hasil Kongres Perhimpunan Kardiologi I, pada Agustus 1974. Maka produk kardiologi ini pun dipakai sebagai kurikulum resmi pendidikan dokter ahli jantung saat itu.

Periode Bagian Kardiologi di RSCM, 1976 - 1984
Pada 10 Nopember 1976 dengan terjadi perubahan status pusat Kardiologi FKUI/RSCM menjadi bagian Kardiologi FKUI/RSCM. Sejak saat itu, pusat kegiatan kardiologi Indonesia lebih banyak dipusatkan pada FKUI/RSCM. Pada 1979, dibentuklah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sebagai suatu sistem yang dibina dan dikembangkan Dirjen Dikti saat itu, melalui Konsorsium llmu Kesehatan yang kemudian disebut Komisi Disiplin llmu Kesehatan (KDIK) Dewan Pendidikan Tinggi Depdiknas.
Menteri Pendidikan saat itu kemudian mengeluarkan kebijakan tentang PPDS adalah salah satu dari 14 program studi di Universitas Indonesia (UI) yang penyelenggaraan pendidikannya dibawah Fakultas Pascasarjana. Pada periode ini untuk menyelesaikan pendidikan Kardiologi, para asisten harus membuat penelitian akhir/Tesis. Pada periode ini juga ditandai dengan penambahan sejumlah fasilitas kesehatan seperti cardiac emergency dan ICCU, laboratorum kateterisasi dan sebagainya.

Periode Departemen Kardiologi di RSJ Harapan Kita, 1985 - Sekarang
Pada 1 Agustus 1985, lokasi dan kegiatan Kardiologi dipindahkan dari RSCM ke RS Jantung Harapan Kita. Periode ini juga ditandai oleh pembuatan buku katalog pendidikan dan kurikulum yang secara resmi diakui oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan. Konsep yang diterima ketika itu adalah katalog Pendidikan Kardiologi dari Bagian Kardiologi pada 1986. Konsep ini pun mengalami berbagai penyempurnaan beberapa tahun kemudian.
Pada periode ini fase Pendidikan Spesialis Jantung dimulai dan berkembang dengan pesat dengan dukungan sarana dan prasarana yang lebih baik. Kegiatan ilmiah tahunan yang secara rutin diadakan PERKI maupun Dept Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI, memungkinkan para PPDS untuk berkiprah dengan menampilkan penelitian dan mendapatkan ilmu dari para pakar baik dalam maupun luar negeri.
Nah, berbagai pencapaian ini, menurut Prof Romdoni haruslah dipertahankan dan ditingkatkan. Ibarat mempertahankan dan mengembangkan amanat founding fathers. “Beragam pusat pendidikan harus diperkuat dan pesertanya harus ditambah. Kalau bisa setidaknya ada 150­an SpJP yang dihasilkan setiap tahunnya,” kata Romdoni, yang pernah menjadi Ketua PERKI Pusat pada 2012-­2014.
Selain itu, untuk memperkecil jurang antara Pusat dan Daerah, Romdoni mengusulkan agar sistem pendidikan dan kemandirian di daerah diperkuat. “Jadi salah satunya tolong ada regulasi pendidikan yang juga mendukung pengembangan daerah. Misalnya untuk Kedokteran Nuklir, tidak semuanya harus ke Jakarta. Jadi orang­-orang di daerah juga terakomodasi,” tutur Romdoni lagi.


[Tim InaHeartnews]

Rabu, 26 April 2017

HUT ke-40 Dept Kardiologi FKUI: Genap 5 Windu Mengabdi untuk Bangsa

Departemen Kardiologi FKUI menyelenggarakan milad ke­-40. Acara berlangsung meriah. Mengemban tugas sebagai “Empat Pilar Kardiovaskular Indonesia”. Sejumlah tokoh dan pakar jantung turut hadir memeriahkan suasana. Apa saja yang telah dicapai selama ini?

Keluarga Besar Departemen Kardiologi FKUI merayakan ulang tahun ke-40.

“LIFE begin at 40”, demikian ungkapan yang ada selama ini. Pada umur 40 tahun, perkembangan kedewasaan dan wawasan serta prestasi mencapai puncaknya. Begitulah yang kini terjadi pada Departemen Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang berulang tahun ke-­40 sejak berdiri pada 10 November 1976.
Tema ulang tahun kali ini adalah “5 Windu Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Mengabdi untuk Bangsa”. Acara berlangsung sangat meriah, banyak alumni yang hadir dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Tampak hadir Dekan FKUI dan Direktur RS Jantung Harapan Kita, serta para founding fathers dan sesepuh.
Dalam rangka HUT ke-­40 ini, juga diadakan launching dua buah buku sekaligus. Yakni buku ajar kardiovaskular serta buku “5 Windu Kiprah Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI”. Mereka juga menggelar panggung hiburan bagi keluarga besar Kardiologi, mulai dari musik, paduan suara dan games yang menarik.
Tak lupa juga sebagai rangkaian ulang tahun, lembaga ini melaksanakan bakti sosial di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Para civitas akademika mencakup mahasiswa, PPDS­1, staf, dan karyawan melakukan berbagai kegiatan antara lain penyuluhan kesehatan jantung dan hipertensi, pelatihan kader dan tokoh masyarakat untuk skrining faktor risiko penyakit jantung koroner, pelatihan Bantuan Hidup Dasar untuk awam dan tenaga medis, penyuluhan anti rokok untuk anak SD, SMP, dan SMA (bekerja sama dengan Yayasan Jantung Remaja), serta melakukan survey dan beberapa penelitian.
“Untuk HUT kali ini kami ingin mengenang perjuangan para founding fathers  dan para pimpinan serta para staf departemen. Kemudian kami ingin menilai hasil yang telah dicapai saat ini dan memahami tantangan serta target yang harus dicapai di kemudian hari,” tutur Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Dr dr  Amiliana M Soesanto, SpJP (K). Berikut ini penuturan Amiliana kepada tim InaHeartnews, Februari.

Dr dr  Amiliana M Soesanto, SpJP (K)

Makna penting apa yang harus diambil dari HUT Kardiologi FKUI kali ini?
Kami ingin memaknai berdirinya bagian Kardiologi ini merupakan hasil perjuangan dari para founding fathers yang pada saat itu telah melihat bahwa lapangan kardiologi begitu luas dan akan menjadi semakin luas sehingga diperlukan suatu keahlian yang memiliki pendalaman dan kekhususan agar tetap mampu mengikuti dan menguasai kemajuan-­kemajuan dalam lapangan ini.
Lahirnya bagian kardiologi FKUI pada waktu itu tidak bisa dilepaskan dari lahirnya Yayasan Jantung Dewi Sartika yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Jantung Indonesia, berdirinya Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki). Kerjasama yang sangat erat telah terbina sejak awal kelahiran Dept Kardiologi FKUI dengan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Perki dan Yayasan Jantung Indonesia. Sehingga empat institusi itu disebut sebagai “Empat Pilar Kardiovaskular di Indonesia”. Empat Pilar ini diharapkan senantiasa bekerja sama meningkatkan pelayanan kardiovaskular di Indonesia melalui tugas dan tanggung jawabnya masing-­masing yaitu di bidang pendidikan, penelitian, pelayanan pasien dan penggerak masyarakat.

Apa yang istimewa dalam HUT Dept Kardiologi kali ini?
Yang istimewa pada HUT ini adalah kita juga membuat acara ini menjadi temu kangen dari seluruh alumni lulusan program studi Ilmu Penyakit Jantung dan Kedokteran Vaskular FKUI sejak angkatan pertama sampai angkatan yang baru saja lulus. Alhamdulillah banyak para alumni yang bisa hadir, senior dan junior saling bersilaturahmi, teman seangkatan saling bernostalgia dan melepas rindu. Beberapa alumni bahkan datang dari luar kota.
Kami juga me­launching dua buah buku. Yaitu buku ajar kardiovaskular yang merupakan bentuk tanggung jawab kami untuk menyebarluaskan ilmu penyakit jantung dan pembuluh darah bagi para dokter di seluruh Nusantara. Buku kedua ada lah “5 windu kiprah departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI” yang menceritakan tentang sejarah berdirinya departemen kami, pencapaian kami selama 40 tahun mengabdi dan arah tujuan yang ingin kami capai di kemudian hari. Kami juga me­launching CD yang berisi lagu-­lagu paduan suara yang dinyanyikan oleh para mahasiswa dan PPDS Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI.

Prestasi apa saja yang telah dicapai selama 40 tahun ini?
Sebagai suatu organisasi modern kami menyadari bahwa kerjasama dan kolaborasi positif dengan berbagai pihak adalah strategi yang penting untuk menghadapi tantangan dan mencapai visi departemen yaitu ”Leader in Cardiovascular Education, Research and Care”. Saat ini kami bekerja sama dengan banyak institusi baik di dalam lingkungan FKUI, di luar FKUI, di dalam maupun di luar negeri untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Bahkan kami juga telah melakukan kerjasama dengan institusi akademik non medikal seperti ITB dan UTM untuk melakukan riset terkait medical engineering.
Untuk kegiatan pengembangan keilmuan dan tekhnologi kardiovaskular, Dept Kardiologi bekerjasama dengan berbagai pusat jantung di luar negeri antara lain di Singapura, Malaysia, Jepang, Taiwan, Vietnam, Belanda, Jerman, Australia, Amerika, Argentina. Program kerjasama itu terkait program fellowship/advance training atau PhD program  para staf  kami.
Sedangkan untuk kerjasama pusat jantung dalam negeri, departemen kami menjadi pengampu dari program studi Ilmu Penyakit Jantung dan Kedokteran Vaskular dari  beberapa universitas negeri di Indonesia.

Apakah sejauh ini, Dept Kardiologi dapat mengejar target kebutuhan tenaga ahli nasional?
Untuk memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga SpJP diperlukan percepatan penambahan jumlah lulusan SpJP dan materi kasus­-kasus yang sesuai dengan yang akan dihadapi para SpJP baru. Oleh karena itu kami membina kerjasama dengan beberapa RS jejaring pendidikan sebagai lahan pendidikan untuk menjamin tercapainya pengalaman dan case load bagi peserta didik. Antara lain; RSCM, RS PKT Bontang, RSPAD Gatot Subroto, RSUD Tangerang, RS Fatmawati, RSAB Harapan Kita, RSUD Tarakan, RSAL Mintohardjo dan RS POLRI Kramat Jati.
Dalam kegiatan pengabdian masyarakat kami bekerjasama dengan Yayasan Jantung Indonesia melakukan berbagai macam aktifitas misalnya penyuluhan kesehatan, pemeriksaan jantung dan lain-lain. Kami juga melakukan pembinaan secara insidentil di beberapa SD sekitar RS Jantung Harapan Kita, panti asuhan yatim piatu, yang menjadi rutin selama Ramadhan.

Bagaimana pula dengan perkembangan intern SDM di Dept Kardiologi? Apakah tenaga pakar/keilmuan yang ada saat ini sudah memenuhi kebutuhan?
Kebijakan kita sekarang adalah regenerasi yang berkesinambungan dan terencana, percepatan peningkatan kemampuan keilmuan dan ketrampilan para staf  baik junior/madya dan memanfaatkan ilmu dan pengalaman para staf senior dan juga yang telah purna bakti untuk terlibat dalam proses pendidikan.
Staf  dikirim ke pusat pendidikan/pelatihan di luar negeri untuk advance training, short course, proctorship atau training lainnya. Para staf  juga didorong untuk memperbanyak publikasi dan berbicara di forum­forum ilmiah mempresentasikan capaian­-capaiannya. Selanjutnya kami melibatkan staf  rumah sakit jejaring pendidikan untuk bersama-­sama aktif dalam proses pendidikan termasuk memberikan pelatihan clinical teaching, membimbing karya tulis PPDS dan melakukan penelitian bersama.

Apa yang menjadi harapan dan tantangan Dept Kardiologi kedepan?
Dept Kardiologi FKUI diharapkan dapat mempertahankan eksistensi dan perannya sebagai yang terdepan di bidang pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kami juga mengharapkan bahwa departemen ini beserta RS Jantung Harapan Kita ikut berperan aktif  bersama-sama pusat jantung lain di dunia dalam perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular yang berkembang pesat baik di tingkat regional maupun di tingkat internasional.
Lebih jauh kami berharap para staf Dept dan para lulusan kardiologi FKUI mampu mendapat pengakuan di tingkat regional maupun internasional baik di bidang kepakaran profesi maupun di bidang penelitian.

[Tim InaHeartnews]

Bergembira dan bersyukur dalam HUT ke-40 Dept Kardiologi FKUI.


*****

Peluncuran Buku Ajar Kardiologi FK UI 

ADA yang istimewa dalam acara HUT ke-40 Departemen Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), yakni launching dua buah buku sekaligus. Yakni buku “5 Windu Kiprah Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI” serta buku ajar kardiovaskular.
Buku yang terakhir ini cukup penting bagi proses perkembangan ilmu kardiologi. Menurut DR dr Yoga Yuniadi, SpJP(K), yang menjadi ketua penyusunan buku, saat ini memang belum tersedia buku ajar kardiovaskular dalam bahasa Indonesia yang mutakhir dan sesuai perkembangan zaman. “Edisi terakhir buku ajar kardiovaskular yang diterbitkan oleh Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI sudah lebih dari 10 tahun usianya,” tutur Yoga kepada InaHeartnews.
Maka tersedianya buku ajar kardiovaskular yang up to date menjadi sebuah misi penting Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI. Buku bacaan itu hendaknya harus menyediakan informasi paling mutakhir bidang kardiovaskular yang perkembangannya demikian cepat.
“Buku ajar Kardiovaskular ditulis dengan tujuan memberikan pengetahuan terkini dan menjadi pegangan bidang kardiovaskular bagi para mahasiswa kedokteran, dokter umum dan dokter spesialis terkait,” kata Yoga.
Untuk itulah, sebuah tim penyusun dibentuk agar kandungan isi buku ajar tersebut cukup mumpuni. “Penyusunan buku ini melibatkan seluruh staf Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI,” kata Yoga. Setiap anggota tim mendapat tugas masing-masing. Dimulai dengan menulis bahan, kompilasi, editing, revisi, lay out, proof reading, cetak dan pemasaran.
Berbagai tantangan dan halangan datang silih berganti. “Beberapa bagian tersulit saat penyusunan adalah membuat gambar yang diupayakan orisinal serta kesibukan para penulis yang luar biasa sehingga pengumpulan naskah sering tertunda,” kata Yoga.
Betapa tidak, tim penyusun membutuhkan waktu hamper 2 tahun lamanya untuk merampungkan tugas. Walau begitu, Alhamdulillah akhirnya selesai juga. “Saya dibantu oleh tim editor yang sangat solid dan bekerja penuh dedikasi,” puji Yoga.
“Kiranya buku ajar ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memahami ilmu kardiovaskular. Tentunya masih banyak kekurangan yang memerlukan penyempurnaan lebih lanjut. Oleh karena itu saran-saran sangat diharapkan,” kata Yoga lebih lanjut.


[Tim InaHeartnews]

InaSH 2017: Indonesia Perlu Waspada Terhadap Hipertensi

Kewaspadaan Indonesia terhadap hipertensi perlu ditingkatkan. Penderita hipertensi wanita cenderung naik. Hipertensi cenderung membuat biaya sosial, ekonomi dan kesehatan makin tinggi.


Indonesian Society of  Hypertension (InaSH) atau Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia kembali mengadakan pertemuan ilmiah. Dalam pertemuan ke­-11 tahun ini, setidaknya hadir 1500­an pakar dan dokter hipertensi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan di Sheraton Jakarta Gandaria City Hotel pada 24-­26 Februari 2017. 
“Kami cukup berbahagia karena terjadi peningkatan jumlah peserta dibandingkan dengan tahun lalu. Selain itu juga terjadi peningkatan kualitas. Misalnya kami menerima setidaknya 80­an hasil penelitian dari berbagai kalangan dokter. Bahkan juga dari kawasan terpencil di Indonesia. Inilah yang harus terus kita bina,” kata Dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Ketua Panitia 11th InaSH. Hasil penelitian ilmiah akan ditampilkan dalam bentuk seminar, workshop, presentasi jurnal ilmiah serta beberapa penghargaan yang bertaraf nasional maupun internasional.
InaSH ke­11 mengambil tema Hypertension 2017: The Science for Today’s and Tomorrow’s Practice. Sejumlah anggota organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), juga turut andil dalam acara ini.
Dalam kesempatan itu, Ketua InaSH, Dr. dr. Yuda Turana, SpS, berharap InaSH tak hanya bermanfaat bagi para anggota, tetapi juga masyarakat luas, termasuk di antaranya para pejabat negara yang mengurusi bidang kesehatan. “Biaya sosial dan ekonomi yang dikeluarkan untuk pengobatan makin terlihat. Sebagian besar penyakit yang ditangani lewat BPJS Kesehatan saat ini, sebagian besar berawal dari hipertensi,” tutur Yuda.
Sebab itulah, beberapa pakar dan anggota InaSH 2017 sepakat memfokuskan pada hipertensi wanita. “Hipertensi pada wanita sering dianggap kurang penting dan tidak terdiagnosa dengan baik. Pada kenyataannya hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya gangguan jantung, gangguan ginjal, stroke, demensia bahkan kematian,” tutur dr Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA, FAsCC pakar senior hipertensi yang juga salah satu pendiri InaSH, di Sekretariat InaSH, Jalan Danau Diatas, Jakarta.
 Maklum saja, hingga saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Padahal, boleh dibilang, hipertensi merupakan awal dari beragam penyakit yang lebih berat, karena merusak berbagai organ vital. Namun sayangnya, pengetahuan masyarakat dan petugas kesehatan di seluruh Indonesia tentang hipertensi tercatat masih rendah dengan jumlah kasus yang tidak terdiagnosa dan jumlah pasien yang tidak mendapat terapi yang memadai masih tinggi.
 Ann kemudian memaparkan data, pada usia 65 tahun ke atas, prevalensi hipertensi pada wanita adalah 28.8, lebih tinggi dibandingkan laki­-laki dengan prevalensi 22.8 (Riskesdas 2013). Walaupun data lainnya menyebutkan, selain faktor hormonal, didapati bahwa angka perkiraan hidup (life expectancy) wanita lebih tinggi dari pria.
 “Hipertensi merupakan faktor risiko terpenting dalam penyebab terjadinya penyakit Kardio­-Cerebro-­Vascular (KCV). Kematian di dunia sebagian besar disebabkan oleh penyakit KCV, baik pada pria maupun wanita. Dalam kurun waktu antara tahun 2000­-2025 diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi sebanyak 9% pada pria dan 13% pada wanita,” kata Ann.
Para pembicara lainnya wanti-­wanti agar masyarakat lebih memperhatikan gejala hipertensi. Betapa tidak, dampak yang di timbulkannya dapat merembet pada organ lain. Misalnya terjadi gangguan jantung, serangan stroke, ginjal dan demensia.
Menurut Yuda, masyarakat perlu mewaspadai hipertensi karena merupakan hulu dari timbulnya penyakit-­penyakit yang lebih berat. Serangan stroke, misalnya, memang sering disebut sebagai silent killer. “Tapi penyakit itu merupakan ujungnya saja. Awalnya adalah gejala hipertensi yang tidak dirawat,” kata Dr dr Yuda Turana, SpS, Ketua InaSH.
Tak hanya itu, hipertensi ujung-­ujungnya juga berdampak pada penurunan fungsi otak seperti demensia. Lagi-­lagi, menurut penelitian yang ada, resiko wanita terkena demensia lebih tinggi dibanding pria.
“Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta pada Desember 2015­ - Januari 2016 menunjukkan bahwa wanita yang terkena stroke kemungkinan mengalami demensia sebanyak 7 kali lipat, dibandingkan dengan pria yang hanya 4 kali lipat,” kata Yuda.
Hipertensi juga dapat merambat ke organ ginjal. “Kerusakan ginjal akibat hipertensi, misalnya, sangat ditentukan oleh tingginya angka tekanan darah sehingga dinding pembuluh darah di ginjal menebal dan kaku yang disebut nephrosclerosis,” tutur ahli ginjal hipertensi dr Tunggul D Situmorang, SpPD­ KGH, yang juga menjadi Wakil Ketua InaSH.
Karena itu, lanjut Tunggul, pengendalian tekanan darah yang baik harus dilakukan hingga mencapai target yang ditentukan. Kerusakan ginjal akibat hipertensi setidaknya dapat diperlambat sehingga terhindar dari gagal ginjal tahap akhir yang membutuhkan dialisis (cuci darah).

 [Tim InaHeartnews]