pita deadline

pita deadline

Kamis, 30 Oktober 2014

Program iSTEMI Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu


Protokol Jejaring Rujukan iSTEMI Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu.

Berdasarkan kutipan laporan WHO 2011, mortalitas penyakit kardiovaskular terutama Infark Miokard Akut masih merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Pasien yang mengalami serangan Infark Miokard Akut (AMI) dengan gambaran EKG elevasi segmen ST mempunyai mortalitas yang tinggi pada fase–fase awal dan prognosisnya hanya dapat diperbaiki dengan reperfusi yang cepat dan tepat. Chain of survival dari STEMI melibatkan strategi yang terintegrasi dimulai dari edukasi pasien dan kontak dini dengan tenaga kesehatan atau jejaring, koordinasi protokol ke fasilitas yang dapat melakukan reperfusi, baik dengan fibrinolisis maupun intervensi koroner perkutan primer, layanan emergensi yang efisien untuk mempersingkat waktu “door to reperfusion” dan implementasi strategi reperfusi dari tim yang terlatih.
Pada tahun 2008, dimulai registri Jakarta Acute Coronary Syndrome (JAC) dan hasil data tersebut di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita memperlihatkan 59% STEMI dan sebagian besar yang datang terlambat berasal dari rujukan rumah sakit lain. Pada tahun 2011, dibentuk sistem rujukan yang diberi nama Jakarta Cardiovascular Care Unit Network System, termasuk call center “Heart Line”. Dibandingkan dengan sebelum dibentuk jejaring, hanya jumlah rujukan pasien STEMI antar-rumah sakit meningkat secara bermakna, namun jumlah pasien STEMI   yang datang terlambat (late presenter) tidak berbeda jauh (53,1% vs 51,2%). Sehingga sebagian besar pasien STEMI yang tiba di rumah sakit Harapan Kita tidak mendapat terapi reperfusi, dengan dampaknya mortalitas di rumah sakit  pada pasien STEMI yang tidak di reperfusi dua kali lipat lebih tinggi.
Data diatas menimbulkan hipotesa angka re­perfusi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kemampuan reperfusi fasilitas kesehatan perujuk. Dalam upaya untuk membuktikan konsep ini maka Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu dipilih sebagai pilot program. Adapun Program ini diberi nama iSTEMI (Indonesia STEMI) dan merupakan kerjasama antara Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Pokja PERKI terkait, Departemen Kardiologi FKUI, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Kota Administratif Jakarta Barat, Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, RSUD Cengkareng dan Medtronic Indonesia. Program ini dikembangkan dengan menitik beratkan pada suatu pro­tokol operasional praktis, pelatihan, dan penyediaan sarana  untuk digunakan oleh dokter dan perawat untuk melakukan terapi reperfusi sesuai dengan pedoman untuk mempersingkat keterlambatan reperfusi dalam penanganan pasien STEMI.
Jejaring iSTEMI dirancang dalam skala regional/wilayah Jakarta Barat dengan menggunakan model hub (rumah sakit penerima rujukan) dan spokes (pusat layanan kesehatan pe­ngirim rujukan). Sistem ini akan mengatur aktivitas dari semua jaringan pelayanan kesehatan di Jakarta Barat Kepu­lauan seribu termasuk RS swasta, sehingga akan menyediakan pelayanan kardiovaskular yang lebih baik untuk masyarakat. Hasil data yang secara berkala bertujuan untuk memberikan solusi secara berkala, membangun rencana kerja dan memperbaiki sistem pelayanan tidak hanya untuk di Jakarta  Barat, namun untuk Jakarta atau bahkan wilayah seluruh Indonesia. 

Dafsah A. Juzar
Ketua Program iSTEMI Jakarta Barat
& Kepulauan Seribu

Kardiologi Kuantum (29): Sindroma “PilPres” dan Revolusi Mental

“The masses have never thirsted after truth. They turn aside from evidence that is not to their taste, preferring to deify error, if error seduce them. Whoever can supply them with illusions is easily their master; whoever attempts to destroy their illusions is always their victim.”

~Gustave Le Bon — The Crowd: A Study of the Popular Mind, p. 110, Viking Press, 1960~

SALAM KARDIO. Demam pemilihan pre­­siden baru-baru ini adalah bagaikan suatu sindroma (kumpulan gejala penyakit) dengan manifestasi klinik berupa rasa panas-dingin, suara serak, mata melotot, dan kelelahan (tampak dari dinamika gambar di TV-TV yang menyala di rumah sakit) telah melanda seluruh lapisan masyarakat. “Penyakit” tersebut juga telah memasuki dunia kesehatan dengan masyarakat rumah sakit, sebagai kasus studi. Masyarakat rumah sakit terdiri dari pasien, petugas kesehatan (dokter, perawat, dan penunjang kesehatan lainnya), keluarga pasien, handaitaulannya, termasuk tamu-tamu rumah sakit: perwa­kilan perusahaan obat, alat kesehatan, bahkan mahasiswa kedokteran S1, S2, dan S3.
Di salah satu rumah sakit di Jakarta, mungkin juga di semua rumah sakit, ma­syarakatnya waktu itu benar-benar telah terbelah menjadi dua, yang memilih No. 1 Prabowo-Hatta (Prabowo Subianto – Hatta Radjasa) dan yang memilih No. 2 Jokowi-JK (Joko Widodo – Jusuf Kalla). Di sela-sela pekerjaan sehari-hari semakin mendekati hari pemilihan suara semakin “keras” dikotominya, sehingga secara kasat mata terlihat jelas siapa yang mendukung No. 1 dan No. 2. Terlihatlah dari jumlah jeriji yang diacung-acungkan baik keatas, ke depan, ke pelipis, dan yang malu-malu hanya cukup membalas acungan jari tersebut, tanpa berinisiatif. Bila acungannya berbeda, “Ganti dong pilihannya”, teriak mereka, ada pihak-pihak yang bersemangat memberikan argumennya dengan perdebatan-perdebatan yang acapkali memanas disertai pembagian pin dan kaos berlogo pilpres. Bahkan publik rumah sakit meneruskan posisinya dan teriakan-kampanye dengan menulis keyakinannya di dunia maya facebook, blogger, dan twitter atau media sosial terbatas lainnya seperti BBM, WhatsApp, dan Telegram. Ada juga kampanye bening misalnya agar memilih pilihan Nomor Tiga yaitu...Cak Lontong dengan salam lempernya atau Pak Legowo yang tidak terdaftar di KPU.
Sudah lebih dari 35 tahun penulis menjadi dokter, baik sebagai dokter sipil maupun militer, belum pernah merasakan suasana penyakit “Demam Pilpres” semacam ini di dalam rumah sakit, di mana petugas kesehatannya terbelah dua keyakinan pilihan politiknya. Demam semacam ini yang sifatnya sementara barangkali boleh disebut neurosis, bersifat sementara kalau sampai terbelah kepribadiannya dinamakan psikosis. Pernah dalam satu sms yang masuk situasi di luar sana cukup mengerikan. Petugas rumah sakit memiliki dua ketakutan; pertama, korban kerusuhan akan masuk ke rumah sakit dan kedua petugasnya sendiri was-was di jalan kalau pulang ke rumah. Para dokter biasanya membantu menenangkan berdasarkan pe-ngalaman hidup yaitu seringnya kita meras­a ketakutan akan terjadi sesuatu dan seringkali juga tidak terjadi apa-apa termasuk berita-berita yang sumber beritanya tidak jelas se­perti kampanye hitam. Benar juga kata bapak psikologi-massa Gustave Le Bon, publik atau kerumunan massa adalah kelompok naif yang mudah terprovokasi.
“Dokter, anda memilih calon presiden nomor berapa sih? Kasih dong pencerahannya sedikit, anda kan termasuk orang yang dituakan di rumah sakit ini!” tanya para pe­rawat. Alih-alih menjawab pertanyaan, malah mengajukan kriteria seorang calon presiden pilihan kita. “Pilihlah Presiden yang 'lebih' percaya (iman) kepada Tuhan YME dan 'lebih' jujur kepada masyarakat”. Meng­apa memilih yang lebih beriman ka­rena se­tiap sepak terjangnya akan diberkati, diri­dhoi, dan mendapat barokah dari Tuhan YME, di sinilah ada aspek Ketuhanannya. Lebih jujur karena kalau presidennya jujur, pasti berani, tegas mengambil keputusan dengan adil, dan kalau adil rakyat akan memberikan kesetiaan kepadanya, disinilah aspek kemasyarakatannya. “Terus kita memilih nomor berapa?” “Ya terserah anda, bebas memilih dan gunakanlah hak pilih sebaik-baiknya!” Mungkin karena dokter-tua masih dianggap panutan di dalam masyarakat rumah sakit, mereka masih mendesak terus pilihan mana yang seyogyanya diberikan, dan kita sendiri memilih siapa. “Dokter, anda pasti memilih No. 1, karena selalu pakai baju lengan pendek putih dan pakai epolet di pundak seperti pramuka, paskibraka dan tentara”, saya tersenyum dan mengangguk-angguk saja karena saya tahu mereka pasti pemilih untuk Capres-Cawapres No. 1. “Akh nggak, dokter pasti memilih No. 2 karena mengajukan hanya dua kriteria calon presiden/wakilnya apalagi anda adalah orang kota-kembar-nama (Ngayogyakarto dan Surokarto) Hadiningrat”, saya tersenyum dan mengangguk-angguk karena “mengerti persoalan” ­bahwa yang menebak ini pasti para pemilih Capres-Cawapres No. 2.
Di dunia kedokteran ada pelajaran empati untuk tidak mengganggu religi dan keyakinan pasien yang sedang sakit. Justru harus melakukan reedukasi sesuai dengan religinya, keyakinan agamanya. Semangat Ketuhanannya sedapat mungkin dibangkitkan kembali. Kesadaran dan ketaatan beragamanya diakomodasi, sekali waktu kita akan mendengar “keajaiban” dalam upaya penyembuhan model holistikekliktik tersebut. Dokter harus mengembalikan pengetahuan pasien bahwa dokter hanyalah perantara saja, dan bahwa DIA-lah yang telah menyembuhkannya. Alfred Adler, neurolog-psikiater menganjurkan agar dokter bersifat seperti kakak yang lebih berpengalaman kesehatan terhadap pasiennya. Menurut Prof. Soemantri Hardjoprakoso, dalam Candra Jiwa Indonesia, kalau seorang dokter hendak memberikan penyuluhan kesehatan, dokter itu sendiri seyogyanya sudah melaksanakannya. Pasien memiliki insting yang masih sehat walaupun badannya sakit. Pasien akan mudah tahu kalau dokternya belum menjalankan nasehatnya sendiri, disini aspek kejujuran di pihak dokter mulai muncul.
“Wah, dokter plin-plan juga neh, Capres-Cawapres No. 1 oke; No. 2 oke juga, haiyaa!” “Ha ha ha.” “Anda benar juga, saya sedang membayangkan anda semua ini kan sedang sakit neurosis yang self limiting disease artinya nanti akan sembuh dengan sendirinya setelah PilPres selesai, tanggal 9 Juli 2014. Dalam hal ini saya harus memelihara empati dan melakukan reedukasi sesuai dengan keyakinan anda atas pilihan yang akan anda jatuhkan, kan dalam persepsi saya anda adalah “pasien-sakit“, bukan “klien-sehat“. Jadi mana saja oke asal itu pilihan pribadi anda, secara bioetika adalah hak otonomi pasien. Kata kuncinya reedukasi bukan edukasi keyakinan sesuai pilihan saya, itulah disiplin ilmu kesehatan mental.”
Kita sudah mendengar gelegar Revolusi Mental Jokowi yang kini sudah menjadi pre­siden terpilih KPU, hendaknya dimulai dari dalam diri kita sendiri dan digemakan secara integral keluar melalui jalur struktur sosial berjenjang yaitu bangunan struktur ekonomi, politik, dan hukum yang diberi jembatan oleh kebudayaan dalam arti luas. Walaupun sebagian masyarakat telah mendengar istilah tersebut cukup lama dari para kelompok pemikir humaniora dan pidato Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1956 dan 1962, terasa masih relevan disampaikan lagi secara bersambung oleh presiden berikutnya bagi rakyat Indonesia, apalagi ketika rakyatnya tertimpa “paradoks pelik”. Terlihat oleh rakyat dalam kiprah KPK, suatu lembaga hukum ad hoc “melibas” oknum-oknum puncak lembaga hukum, pembuat dan pelaksana undang-undang sampai departemen agama. Apakah ada yang salah dalam berkebudayaan masyarakat Indonesia terutama dalam berketuhanan dan bermasyarakat? Tampaknya sesuatu yang disebut revolusi mental memang harus dimulai dari dalam diri kita, melebar di dalam keluarga, dan di tempat kerja kita masing-masing.
Melihat struktur mental manusia dengan kacamata Sigmun Freud, Alfred Adler, dan Carl Gustav Jung yang telah dibandingkan dengan cara menyejajarkan posisi egonya manusia dengan Candra Jiwa Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh Prof. Soemantri Hardjoprakoso dalam disertasinya di Rijkuniversiteit Leiden di Negeri Belanda 1956. Judul disertasinya adalah Indonesisch Mensbeeld als Basis Ener Psycho-Therapie yang artinya Candra Jiwa Indonesia sebagai dasar psikoterapi, terapi mental. Dalam skala kontinuum waktu, perjalanan kehidupan mental seorang manusia adalah suatu peristiwa evolusi. Percepatan dari suatu evolusi dalam skala pribadi yang diintegrasikan de­ngan struktur sosial-ekonomi, politik dan  hukum yang dijembatani dengan kebudayaan dalam arti seluas-luasnya dapat dimaknai sebagai suatu bentuk revolusi mental.
Berbekal dari uraian diatas, sebagai warga negara kita wajib berbakti kepada Tuhan YME dan Utusan-Nya yang abadi, diteruskan kepada Pimpinan Negara dan Undang-undangnya sampai tanah tumpah darahnya. Dengan dua kata kunci untuk lebih memperbaiki iman kepada Tuhan YME dan ke-jujur-an kita kepada masyarakat sebagai modal awal revolusi mental di dalam diri kita sendiri dalam menyongsong gerakan masyarakat (revolusi mental) untuk Indonesia Raya. Sesuai dengan yang telah disarankan oleh Wage Rudolf Supratman: ...bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Salam kuantum. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan rakhmat dan barokahnya kepada bangsa Indonesia, amin.
Budhi S. Purwowiyoto

Kopeptin sebagai Biomarker Infark Miokard Akut: Detektor Dini Berikutnya?

Deteksi dini, intervensi dini, dan mana­jemen faktor risiko dengan strategi pen­cegahan sekunder adalah kunci untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas sindrom koroner akut (SKA). Deteksi dini kasus infark miokard akut (IMA) khususnya IMA dengan elevasi segmen ST (IMAEST), sangat penting untuk mempercepat pemberian terapi reperfusi farmakologis yang invasif dan agresif.1,2
Menurut definisi internasional ketiga IMA, abnormalitas elektrokardiografik serta perubahan kadar troponin jantung meru­pakan elemen-elemen kunci diagnosis IMA. Troponin jantung adalah protein struktural yang merupakan standar emas diagnosis IMA. Terdeteksinya biomarker-biomarker tersebut dalam plasma menunjukkan adanya nekrosis miokard.1,3
Untuk saat ini, pemeriksaan troponin jantung tidak bisa membedakan apakah nekrosis miokard terjadi karena etiologi iskemik atau noniskemik. Pemeriksaan troponin jantung juga tidak mampu men­deteksi nekrosis miokard pada jam pertama setelah gejala muncul. Ada rentang waktu antara onset gejala dan kemunculan troponin jantung dalam darah. Troponin jantung  meningkat dalam waktu 6 - 9 jam setelah onset dan sensitivitasnya 39 - 43% bila pasien dibawa ke IGD tiga jam setelah onset.1,4,5
Kelemahan-kelemahan tersebut dapat mempersulit penentuan penyebab kenaikan kadar troponin jantung plasma. Dengan demikian, penggunaan biomarker lain yang tidak tergantung pada nekrosis sel, seperti kopeptin, dapat lebih informatif terkait adanya iskemia miokard, ruptur plak, atau sinyal-sinyal IMA fase dini yang lain sehingga dapat membantu mendiagnosis IMA secara cepat.1,6
Studi kohort prospektif dilakukan oleh Reichlin dkk pada 487 pasien yang dibawa   ke IGD dengan gejala-gejala sugestif IMA dan onset  ≤ 12 jam sebelum admisi. Tujuan studi ini adalah untuk memeriksa nilai kenaikan kopeptin guna menyingkirkan diagnosis IMA secara cepat. Troponin T jantung (cardiac troponin-T [cTnT]), creatin kinase myocardial band (CKMB), mioglobin, dan kopeptin diukur secara serial yaitu saat datang, setelah 3, 6, dan 9 jam kemudian.7
Hasil studi menunjukkan bahwa kadar kopeptin secara signifikan lebih tinggi pada pasien-pasien IMA dibandingkan pada pasien-pasien berdiagnosis lain (nilai median 20,8 pmol/L vs 6,0 pmol/L, P < 0,001). Sensit ivitas diagnostik kombinasi kopeptin dan cTnT ternyata lebih tinggi secara signifikan daripada sensitivitas diagnostik kopeptin saja dan cTnT saja. Penyingkiran dini IMA secara tepat saat di IGD dicapai dengan mengombinasikan hasil uji kopeptin, yaitu < 14.0 pmol/L, dan hasil uji cTnT, yaitu ≤ 0.01 μg/L. Kombinasi ini memiliki sensitivitas 98,8%, spesifisitas 77,1%, nilai prediktif negatif (negative predictive value [NPV]) 99,7%, dan nilai prediktif positif (positive predictive value [PPV]) 46,2%.7
Dari studi ini, disimpulkan bahwa pemeriksaan kadar kopeptin sebagai biomarker tambahan untuk cTnT memungkinkan penyingkiran IMA saat presentasi awal secara cepat dan andal. Hal ini dapat mempercepat pengambilan keputusan klinis bagi pasien-pasien non-IMA tanpa perlu pengambilan darah serial untuk mengukur cTnT secara berulang dan tanpa perlu waktu pemantauan yang lama.7
Studi-studi dengan hasil serupa adalah studi oleh Keller dkk dan Folli dkk. Keller melakukan studi prospektif pada 1386 pasien yang datang ke IGD dengan nyeri dada akut. Studi multisenter ini mengikutsertakan secara konsekutif pasien-pasien terduga SKA antara Januari 2007 sampai dengan Juli 2008. Keller dkk menemukan bahwa nilai median kadar cTnT plasma meningkat secara proporsional setelah onset gejala; berbeda dengan nilai median kadar kopeptin plasma yang menurun setelah onset gejala. Kombinasi kopeptin dan cTnT menunjukkan superioritas di mana pada pasien-pasien yang masuk IGD dalam < 3 jam setelah onset nyeri dada (OND) kombinasi kopeptin dan cTnT memiliki kekuatan diagnostik tertinggi dengan area under curve (AUC) sebesar 0,9 bila dibandingkan kombinasi pemeriksaan mioglobin dan cTnT. Simpulan studi ini adalah bahwa kombinasi pemeriksaan kopeptin dan cTnT lebih baik dibandingkan pemeriksaan biomarker tunggal atau kombinasi lainnya untuk identifikasi IMA pada jam-jam awal setelah OND.6
Folli dkk mengadakan studi prospektif observasional yang meneliti 471 pasien yang dibawa ke IGD dengan nyeri dada akut dan OND < 8 jam. Studi enam bulan ini memakai teknik biomarker ganda yaitu cTnT dan kopeptin. Tujuannya untuk memeriksa apakah kombinasi pemeriksaan kopeptin dan cTnT dapat dengan tepat menyingkirkan diagnosis SKA dan nyeri dada nonkardiak lainnya.8
Analisis data menunjukkan bahwa AUC kopeptin dan cTnT lebih lebar pada IMAEST (0,86 dan 0,72) dan IMANEST (0,73 dan 0,76). Bila kedua biomarker tersebut dikombinasikan, AUC meningkat menjadi 0,89, pada IMAEST, dan 0,86, pada IMANEST. Kombinasi pemeriksaan kopeptin dan cTnT memiliki NPV 86,6 (pada pasien-pasien IMAEST dan IMANEST), 85,0 (pada populasi keseluruhan), dan 97,9 (pada pasien-pasien dengan penyakit mengancam nyawa selain SKA). Selain hasil yang serupa dengan studi Reichlin dkk dan Keller dkk, studi ini me­nyimpulkan bahwa kopeptin penting dalam penyingkiran dini pasien-pasien IMA dan merupakan sinyal adanya penyakit-penyakit yang mengancam nyawa.8
Studi multisenter prospektif dilakukan oleh Ray dkk pada 451 pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner (PJK) yang dibawa ke IGD dengan OND ≤ 6 jam, temuan elektrokardiografik negatif, dan kadar troponin I jantung (cTnI) yang negatif. Dari studi ini, disimpulkan bahwa, untuk pasien-pasien dengan OND #&8804; 6 jam dan diduga mengalami IMANEST, gabungan pemeriksaan kopeptin dan cTnI memiliki NPV 98% sehingga memungkinkan penying­kiran IMA secara cepat.9
Studi multisenter prospektif oleh Chenevier-Gobeaux dkk menunjukkan hasil serupa dengan studi Ray dkk. Studi selama 18 bulan pada 317 pasien berusia > 18 tahun yang dibawa ke IGD dengan OND < 6 jam ini menyelidiki superioritas sensitivitas gabungan pemeriksaan cTnI dan kopeptin terhadap sensitivitas pemeriksaan cTnI konvensional dalam mendiagnosis dini IMA. Simpulan studi ini juga menunjukkan bahwa penggunaan kopeptin bersama cTnI memungkinkan penyingkiran diagnosis IMA yang cepat dan andal.10
Suatu studi yang dilakukan oleh Potocki dkk memperkuat hasil studi-studi di atas. Potocki dkk menganalisis 433 pasien dengan PJK dalam suatu studi multisenter prospektif. Dari studi ini, disimpulkan bahwa, pada pasien-pasien dengan PJK yang telah ada sebelumnya, kopeptin secara signifikan meningkatkan akurasi diagnostik bila digunakan bersama cTnT. Kopeptin memberikan informasi prognostik independen terutama bila kadar cTnT hanya meningkat ringan.11
Telah diketahui bahwa kadar AVP plasma secara signifikan meningkat pasca-IMA baik pada manusia maupun hewan. Penyebab-penyebabnya belum bisa dijelaskan. Banyak hipotesis diajukan untuk menjelaskan mekanisme peningkatan kadar AVP dan kopeptin ini. Salah satunya adalah hipotesis stres yang menyatakan bahwa peningkatan tersebut adalah bagian dari respons cepat terhadap kondisi stres yang mengancam kehidupan pada IMA. Dalam respons ini, AVP bekerja secara sinergis dengan ACTH dan kortisol sebagai moderator stres akut. Selain hipotesis stres, ada hipotesis hemodinamik yang muncul dari studi-studi pada pasien-pasien IMAEST. Hipotesis ini menyatakan bahwa perubahan-perubahan akut dalam dinamika jantung, underfilling jantung, dan stimulasi baroreseptor jantung (sebagai respons terhadap hipotensi sistemik atau kerusakan jaringan akibat iskemia) adalah stimulan kuat pelepasan AVP dan kopeptin.1
Hasil-hasil studi dan hipotesis-hipotesis di atas telah mengantarkan kita pada sim­pulan penting bahwa terdapat potensi me­nguntungkan kopeptin di masa depan. Potensi sebagai suatu detektor baru dari IMA; biomarker diagnostik berikutnya se­telah biomarker-biomarker yang sekarang ini kita kenal.
dr. Andy Kristyagita

Referensi

  1. Elshafei A, Abdalla G, El-Motaal OA, Salman T. Copeptin: a neuroendocrine biomarker in acute myocardial infarction. Annual Review & Research in Biology. 2013; 3(4): 1040-54. 
  2. Leeper B, Cyr MA, Lambert C, Martin K. Acute coronary syndrome. Crit Care Nurs Clin North Am. 2011 Dec; 23(4): 547-57.
  3. Boden H, van der Hoeven BL, Karalis I, Schalij MJ, Jukema JW. Management of acute coronary syndrome: achievements and goals still to pursue. Novel developments in diagnosis and treatment. J Intern Med. 2012; 271: 521-36.
  4. Jneid H, Anderson JL, Wright RS, Adams CD, Bridges CR, Casey DE, Jr, et al. American College of Cardiology Foundation; American Heart Association Task Force on Practice Guidelines. 2012 ACCF/AHA focused update of the guideline for the management of patients with unstable angina/Non-ST-elevation myocardial infarction (updating the 2007 guideline and replacing the 2011 focused update): a report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on practice guidelines. Circulation. 2012; 126(7): 875-910.
  5. Thygesen K, Alpert JS, Jaffe AS, Simoons ML, Chaitman BR, White HD. The writing group on behalf of the Joint ESC/ACCF/AHA/WHF Task Force for the Universal Definition of Myocardial Infarction. Third international definition of myocardial infarction. Circulation. 2012; 126: 2020-35.
  6. Mueller C. Detection of myocardial infarction – Is it all troponin? Role of new markers. Clin Chem. 2012; 58(1): 162-64.
  7. Thygesen K, Mair J, Katus H, Plebani M, Venge P, Collinson P, et al, the Study Group on Biomarkers in Cardiology of the ESCWorking Group on Acute Cardiac Care. Recommendations for the use of cardiac troponin measurement in acute cardiac care. Eur Heart J. 2010; 31: 2197-204.
  8. Gu YL, Voors AA, Zijlstra F, Hillege HL, Struck J, Masson S, et al. Comparison of the temporal release pattern of copeptin with conventional biomarkers in acute myocardial infarction. Clin Res Cardiol. 2011; 100: 1069-76.
  9. Keller T, Tzikas S, Zeller T, Czyz E, Lillpopp L, Ojeda MF, et al. Copeptin improves early diagnosis of acute myocardial infarction. J Am Coll Cardiol. 2010; 55(19): 2096-106.
  10. Reichlin T, Hochholzer W, Stelzig C, Laule K, Freidank H, Morgenthale NG, et al. Incremental value of copeptin for rapid role out of acute myocardial infarction. J Am Coll Cardiol. 2009; 54: 60-8.
  11. Ray P, Charpentier S, Chenevier-Gobeaux C, Reichlin T, Twerenbold R, Claessens Y, et al. Combined copeptin and troponin to rule out myocardial infarction in patients with chest pain and history of coronary artery disease. Am J Emerg Med. 2012; 30: 440-8.