pita deadline

pita deadline

Kamis, 04 Juli 2013

PERKI JAYA Selangkah Menapaki Sukses & Meraih Impian

(Laporan Khusus The 2ndJakarta Cardiovascular Summit 2013)

Sebagian Panitia dan para Instruktur The 2ndJakarta Cardiovascular Summit 2013.

ATAS kerja keras panitia The 2nd Jakarta Cardiovascular Summit (JCS) 2013 yang dikomandoi oleh dr. Frits RW Suling SpJP beserta jajaran pengurus PERKI Jaya, event ini bisa terselenggara dengan sukses dan lancar. Secara resmi JCS dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta yang diwakili oleh Dinkes Provinsi DKI Jakarta, mendapat sambutan antusias dari peserta yang sejak awal sudah standby menanti opening ceremony sambil menyimak plenary session.
Tercatat setidaknya 750 peserta hadir dari berbagai wilayah seluruh Indonesia. Untuk event sekelas ini, dianggap prestasi gemilang, mengingat event kedua Perki Jaya ini berlangsung bersamaan dengan berbagai event ilmiah lainnya. Jadi bisa dikatakan sebagai langkah kedua yang gemilang.

Tak henti belajar
Sebagaimana disampaikan oleh Dr. dr. Indriwanto SpJP, Ketua Perki Jaya, dalam sambutan pembukaan, bahwa salah satu kewajiban dokter terhadap diri sendiri ialah senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Panggilan etik ini senantiasa diupayakan terus-menerus karena seperti kata Mahatma Gandhi belajar itu tak mengenal batas waktu. “Hiduplah seolah-olah Anda akan mati besok, belajarlah seolah-olah Anda akan hidup selamanya”.
Tahun ini JCS menyelenggarakan 4 workshops, bertambah dua topik dibandingkan tahun lalu, yakni Acute Heart Failure, Acute Coronary Syndrome, Arrhythmias, dan Anticoagulant. Selain simposia menggelar juga pameran buku, pameran farmasi dan alat kesehatan. Informasi terkini tentang obat dan alat penunjang medik mutakhir dapat diperoleh langsung dari partisipan dalam expo tersebut. Bahkan order pembelian disertai diskon jumbo sangat sayang untuk tidak 'dimampiri' sambil belanja.
Bahkan Perki Jaya dalam rangkaian JCS ini, Minggu malam, 26 Mei 2013, menyelenggarakan Pembinaan Etika untuk menyegarkan anggota akan pentingnya relationship dan integrity dalam menjalankan profesi sebagai dokter jantung. Perki Jaya menghadirkan narasumber Prof. dr. Asikin Hanafiah, SpJP dan Prof. Dr. dr. Herkutanto, SpF, SH.

Kardiologis muda
Tema JCS 2013 ialah “Cardiovascular Emergency: From Learning to Adapting”. Tema ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan penanganan yang bermutu terhadap tingginya kejadian acute cardiovascular event, baik pada  dewasa maupun anak. Karena itu selain menyajikan empat simposium bernuansa sindroma koroner akut pada dewasa, juga menyajikan Emergency in Congenital Heart Disease Symposium dan Valvular Emergencies Symposium yang lebih sering terjadi pada usia anak-anak. Simultan dengan simposium ilmiah ini, juga disajikan ilmiah populer bagi masyarakat umum dalam bentuk Seminar Awam dengan judul Menghindari  Serangan Jantung.
Mencermati seluruh rangkaian simposium yang berlangsung dua hari itu, ada yang tetap istimewa. Bahwa sebagian besar pembicara didominasi oleh kardiologis muda anggota Perki Jaya. Mereka disandingkan dengan para senior yang memandu sebagai moderator. Perpaduan senior-yunior ini tak semata mengisyaratkan harmoni, lebih dari itu menyiratkan kesuksesan regenerasi di tubuh PERKI, khususnya PERKI Jaya.   

Model pengembangan jantung-sehat
Menariknya lagi, JCS 2013 menampilkan plenary session yang di-arrange sedemikian rupa menjadi suatu sarana komunikasi Perki Jaya dalam merespons salah satu tugas dan fungsi organisasi meningkatkan pencegahan dan penanggulangan penyakit kardiovaskular, khususnya dalam wilayah DKI Jakarta.
Sejalan dengan rangkaian kegiatan ilmiah yang lebih bernuansa kuratif, melalui presentasi dari Wakil Ketua Perki Jaya, dr. Dolly RD Kaunang SpJP, SpKP, Perki Jaya menggulirkan sebuah gagasan yang bernuansa preventif-promotif, yakni sebuah Model Pengembangan Jantung-Sehat DKI Jakarta, yang akan disampaikan kepada semua pemangku kepentingan khususnya Gubernur DKI Jakarta.
Lebih jauh dr. Dolly memaparkan tujuan dan strategi pencapaian, prioritas program serta target waktu yang diinginkan. Pada hakekatnya mengacu pada konsep bahwa peningkatan cardiovascular endurance akan melipat gandakan efek preventif yang dijalaninya. Gagasan model pengembangan jantung-sehat ini memperoleh sambutan positif dari Ketua Terpilih PP PERKI, Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP, sebagaimana disampaikan dalam sambutan pembukaan JCS. Lebih jauh beliau menyampaikan, bahwa model tersebut dapat menjadi acuan bagi kegiatan perki cabang lainnya.
Pada kesempatan lain dikemukakan, bahwa PERKI Jaya sudah menyiapkan infrastruktur berkomunikasi, yakni melalui media online (website) perkijaya.com. Diakuinya belum lancar sekali, mengingat belum semua anggota meregistrasi, nama, alamat, username dll. Karenanya pada kesempatan itu dr. Dolly Kaunang mengimbau sejawatnya agar sesegera mungkin registrasi di media online perkijaya.com. Perki Jaya mengharapkan respons dan dukungan dari semua pihak, bahu-membahu, pegang tangan bersama, melangkah menuju cita-cita meraih “Jakarta Sehat.”
Rekomendasi dari perhimpunan agar lebih baik lagi, menjadi catatan penting demi kemajuan PERKI di masa mendatang. Diantara rekomendasi yang mencerahkan adalah diharapkan lebih mengintensifkan workshop, khusus untuk SpJP dan bagi dokter umum/dokter spesialis bidang lainnya. The Jakarta Cardiovascular Summit (JCS) 2013 bagi panitia dan pengurus, dinilai cukup berhasil. Bahkan telah ditentukan akan bertemu lagi dalam The 3rd JCS 2014 pada 17 -18 Mei 2014 di Ritz Carlton, Jakarta.
(Sy)


Preventif Primer Fibrilasi Atrium pada Penyakit Ginjal?

DALAM 5 tahun terakhir ini kita belajar  tentang aktifitas imiah yang mendalami berbagai aspek hubungan antara fibrilasi atrium (AF) dengan penyakit ginjal (KD). Pada awalnya dimulai dengan sampel kecil dengan hasil yang kurang kuat dalam melakukan generalisasi. Demikian Winkelmayer WC mengawali tulisan editorialnya pada Circulation 2013; 127: 560-2. Pendalaman pengetahuan ini memerlukan suatu penelitian kohort dengan sampel yang besar. Pertama, realisasi penemuan prevalensi fibrilasi atrium yang meningkat secara monoton dengan fungsi ginjal yang memburuk, bersamaan dan independen. Terdapat gambaran estimasi glomerular filtration rate (eGFR) yang menurun disertai meningkatnya ekskresi albumin urin (McManus DD dkk, 2009). Pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir, yang memerlukan dialisis memiliki prevalensi AF yang tinggi lebih dari 10%, dengan >17% pda usia diatas 65 tahun terdiagnosis memiliki aritmia yang paling sering terjadi (Winkelmayer WC dkk, 2009). Tidak mengejutkan lagi ketika ditemukan insiden AF juga meningkat pada mereka yang memiliki fungsi ginjal yang menurun (Alonso A dkk, 2011). Prognosis pasien-pasien kombinasi AF dan KD menjadi buruk, termasuk pasien-pasien yang didialisis dan didiagnosis AF memiliki mortalitas 1 tahun mendekati 40%, dua kali lebih banyak pada populasi pasien yang sama tanpa AF.
Observasi epidemiologi ini meningkatkan pertanyaan tentang strategi terapinya ketika menemukan pasien dengan kombinasi AF dan KD. Walaupun secara umum antikoagulan direkomendsikan sebagai prevensi sekunder bagi pasien AF, pasien dengan KD lanjut memiliki risiko perdarahan dan meningkatkan risiko iskemik strok. Hubungan antara keuntungan-kerugian pemberian antikoagulan oral pada  populasi KD lanjut masih tetap belum jelas, terutama pada KD tahap akhir (Shen JL dkk, 2012). Walaupun antikogulan oral baru telah berhasil meningkatkan kemampuan pengobatan penyakit pada pasien tanpa KD, penggunaan dan keamanannya masih dipertanyakan pada pasien dengan eGFR yang menurun, hal ini termasuk di dalam area aktifitas investigasi ilmuwan saat ini. Sangat menarik studi Bansal N dkk pada Circulation 2013 ini memfokuskan pada AF dan KD yang sebelumnya lepas dari perhatian. Peneliti mengajukan alternatif hipotesis pada populasi KD relatif lanjut, angka kejadian AF yang dihubungkan dengan peningkatan risiko penurunan KD yang   lebih cepat dibandingkan populasi yang sama tetapi tanpa KD. Rupanya Bansai N dkk mempertajam penelitian Studi Niigata dengan sample yang lebih besar dari organisasi penyelenggara kesehatan di California Utara. Organisasi ini menyelenggarakan pemeriksaan laboratorium, elektrokardiogram dengan kode diagnosis yang lebih baik. Penelitian pada eGFR yang menurun (<60m L/min/1.73 m2) pada >2 pemeriksaan yang berbeda waktu, studi eksposur, keberadaan AF yang tergantung waktu meningkatkan nilai penelitian.Pendapat bahwa AF secara nyata menyebabkan percepatan menurunnya fungsi ginjal dan meningkatkan risiko KD tahap akhir, beberapa penyebab atau mekanismenya memerlukan penelitian lanjut termasuk kemungkinan inflamasi sistemik, profibrotik, dan faktor hemodinamik. Observasi yang menarik adalah terdapatnya perbaikan fungsi ginjal pada pasien yang sukses diablasi AF-nya dibandingkan dengan pasien AF yang menetap pascatindakan tersebut (Takahashi Y dkk, 2011). Akhirnya, penelitian terhadap obat-obat yang digunakan untuk AF dicurigai sebagai biang keladi percepatan penurunan fungsi ginjal. Secara spesifik, warfarin memperlihatkan kontribusinya pada kerusakan struktur dan menurunkan fungsi ginjal, terutama pada pasien yang telah menurun eGFR-nya dan mencapai INR, international normalized ratio yang tinggi (Brodsky SV dkk, 2011).
Kesimpulan akhir Bansal dkk mengemukakan bahwa diperlukan studi lanjut untuk memastikan penyebab (kalau ada) dari percepatan penurunan fungsi ginjal pada pasien AF (baru). Justru disinilah seharusnya dilakukan upaya preventif AF pada pasien yang dicurigai mengidap KD. Preventif primer sangat dianjurkan oleh penulis editorial ini. Penemuan-penemuan tersebut jelas mengindikasikan agar prioritas penelitian mengklarifikasi hubungan dua arah antara AF dan KD. (Circulation 2013; 127: 560-2)
Budhi Setianto

Kardiologi Kuantum (19) TheSource


“As Morpheus told Neo, only the door can be shown but he is the one who has to walk through it, this book ‘Journey to The Source’ holds the door open and illuminates our path”
Don Davis, Music Composer of The Matrix Trilogy Movies*)


JOURNEY to the Source: Decoding Matrix Trilogy adalah sebuah buku mengenai film trilogi The Matrix. Telah dipublikasikan oleh Sakthi Book Inc pada tahun 2004, penulisnya adalah Pradheep Chhalliyil seorang  ilmuwan Genetic-ID dari Fairfield, Iowa. Sesungguhnya ia adalah co-founder dari Yayasan Sakthi, suatu organisasi chariti yang beroperasi di USA dan India.
Kata pengantar buku tersebut ditulis oleh Don Davis, komposer musik dari film Trilogi Matriks. Komentarnya tentang “Journey to The Source” sebenarnya sama dengan komentar Morpheus, karakter fiksi guru spiritual yang mengatakan kepada Neo bahwa ‘pintu’ dapat diperlihatkan, tetapi hanya dialah yang dapat melaluinya.. tentu saja setelah memiliki kuncinya dari the keymaster. Kelak Morpheus menawarkan kepada neo dua pil, satu berwarna biru dan satu lagi berwarna merah. Pil biru (untuk melupakan the Matrix dan meneruskan hidup di dalam dunia ilusi), atau pil merah (untuk memasuki realitas dunia yang menyakitkan).
Dalam mitologi Yunani sebenarnya Morpheus adalah dewa impian, yang sesuai dengan karakter yang berlaku dalam film-film The Matrix. Secara mistik Morpheus dan keluarganya, termasuk dua saudaranya (Phobetor dan Phantasos), hidup dalam dunia impian yang dipisahkan hanya oleh jembatan “the Gates of Morpheus” dengan dua monster penjaganya. Di seberang jembatan, terdapat kehidupan impian dan sungai   pelupanya.
Film Trilogi The Matrix menceritakan Thomas A Anderson (dibintangi oleh Keanu Reeves) seorang programer komputer ingin sekali memecahkan rahasia kode-kode enkripsi “the Matrix”. Trilogi Matrix adalah film tahun 1999 yang disutradarai oleh Larry dan Andy Wachowski ini ingin menggambarkan kejadian tahun 2199, seratus tahun ke depan setelah mesin-pintar diciptakan dengan catu energi matahari. Panas dan biolistrik tubuh manusia sebagai bahan fusi nuklir dapat dipakai untuk menggantikan energi matahari. The Source diyakinkan sebagai pusat utama komputer untuk mesin-mesin di kotanya sekaligus sebagai lokasi yang bekerja mandiri di dalam kode-kode Matrix sehingga tidak memerlukan program lain. Semuanya itu (film maupun bukunya) adalah cerita dunia maya yang berupa program komputer.
Kardiologi kuantum kali ini masih ingin mengulangi pengetahuan bahwa manusia juga berkecimpung sedikitnya dalam tiga dunia. Sementara itu dunia ke-4 adalah alam sejatinya yang berada di lubuk hati yang terdalam tempat beradanya TheSource (Suksma Kawekas) sumber dan tujuan hidup akunya manusia yang imateri. Dunia-1 adalah dunia realitas yaitu alam semesta dan seisinya, disebut juga makrokosmos. Penghuninya adalah mineral dan segala manifestasinya, tumbuh-tumbuhan, hewan, dewa (makhluk halus), dan manusia. Dunia-2 sampai dunia-4 berada di dalam diri manusia sebagai mikrokosmos. Nah, dunia-2 adalah dunia fisik manusia yang di dalamnya berlaku hukum-hukum fisika, kimia dan biologi terbagi dalam sistim-  sistim antara lain kardiovaskular, respirasi, digestif dan neurologi. Dunia-3 adalah   dunia angan-angan, dunia aku karena kristalisasi angan-angan menjadi akunya manusia. Dunia-3 adalah dunia psike, jiwa, mind dan mentalnya manusia. Dunia-3 inilah yang digeluti oleh ilmu-ilmu humaniora seperti filsafat, psikologi, psikiatri, psikosomatik dan kardiologi kuantum ingin ikut membicarakannya dan menitik beratkan acuannya kepada Candra Jiwa Indonesia seraya membandingkan sekali-sekali dengan Candra Jiwa Freud, Jung maupun Adler.
Ketiga dunia yang telah disebutkan di atas tadi merupakan dunia fisik/materi. Materi yang masih dapat diraba dengan pancaindra di kuantifikasi secara fisik dimasukkan dalam materi kasar yaitu dunia-1 (makrokosmos) dan dunia-2 (mikrokosmos) yaitu fisik manusia. Dunia-3 (mikrokosmos) adalah dunia angan-angan manusia karena dialah yang memiliki fungsi sadar (kalimat mutiaranya: pikir itu pelita hati), memiliki varabel yang tak terbatas, oleh karena itu mendapat mandat untuk mengatur nafsu-nafsu. Dunia mental ini dapat juga disebut sebagai dunia-Aku karena aku adalah kristalisasi angan-angan, secara fungsionil sang-aku ini mewakili  seluruh mikrokosmos misalnya aku makan, aku minum padahal fokus geraknya di  mulut.
Yang paling istimewa adalah Dunia-4 sebagai alam sejatinya manusia, sebagai pusat imateri di dalam dirinya manusia. Jati dirinya manusia ada di situ karena Roh Suci (TheSelf), sifat Ketuhanan yang dibungkus oleh jiwanya adalah sang-Aku-nya yang imateriil, yang abadi. TheSelf inilah yang akan dituntun oleh TheForce kembali ke sumber dan tujuan hidupnya ialah TheSource (Suksma Kawekas). Tidak usah menunggu manusia meninggal, kapan saja asal bekalnya cukup. Konon bekalnya adalah kesucian hati yang penampilannya di masyarakat sebagai kasih sayang yang tanpa pamrih. Sesudah itu mengalihkan titik berat kesadaran ke dunia-4 tersebut dengan introspeksi berupa sadar, percaya dan taat kepada TheSource, seraya mendapat tuntunan dari penuntun dan gurunya sang-Aku yang abadi yaitu TheForce. Peristiwa pertemuan TheSelf dengan TheForce adalah intuisi, pencerahan yang mengubah peradaban. Peristiwa peleburan, bertunggalnya TheSelf dengan TheForce adalah akhir dari evolusinya sang-Aku manusia, disebut sebagai peristiwa Panunggal, pembebasan atau Pamudaran. Di dalam terminologi Carl Gustav Jung sebagai proses yang disebut sebagai werden zur Persönlichkeit, atau Selbstverwirklichung, Verselbstung atau sebagai Individuationprozess.
Andaikata TheSource (Suksma Kawekas) adalah matahari, maka TheForce (Suksma Sejati) adalah bulannya dan manusia adalah kelelawar-kelelawar (Sang Aku) yang tidak mungkin menatap sang matahari. Sinar sang rembulan, yang sejuk itu memungkinkan kelelawar dapat melangsungkan kehidupannya. TheForce adalah penuntunnya manusia atas nama TheSource, sumber hidup dan tujuan hidupnya. TheForce dan TheSource adalah sadar kolektif, TheForce adalah sadar kolektif yang dinamis, adalah utusan abadi dari TheSource, sadar kolektif yang statis, tujuan akhir dari evolusinya sang-Aku manusia. Semua kekuasaan adalah kekuasaan TheSource berada di tangan TheForce, dan manusia ada di dalam kekuasaan TheForce.

Makrokosmos/alam semesta berada di dunia/dimensi-1 mewadahi mikrokosmos. Mikrokosmos/dunia kecil terdiri dari 1] Fisik (badan/jasmani kasar, soma, body, dunia-2), 2] Mental (badan/jasmani halus, jiwa, psike, mind, dunia-3), dan 3] Spiritual (rohani, alam sejati, Pusat Imateri, spirit, dunia-4). 
(Purwowiyoto BS. Candra Jiwa Indonesia Warisan Ilmiah Putra Indonesia. Penerbit H&B PERKI, Jakarta 2012)

Sekiranya seorang dokter dapat memberikan semangat spiritual kepada pasien-nya agar selalu mendekat kepada Tuhan dan Utusannya Yang Abadi. Agar senantiasa memohonan pemberian kesembuhan kepadanya melalui doa, dzikir, sembah kalbu, atau meditasi transendental dalam arti seluas-luasnya, niscaya akan lebih sering kita dengar tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi di dalam proses penyembuhannya, sangat mungkin merupakan bagian dari peristiwa intuisi.     

Budhi S. Purwowiyoto

*) http://en.wikipedia.org/wiki/Journey_ to_the_Source:_Decoding_Matrix_Trilogy cited at June15, 2013
http://en.wikipedia.org/wiki/Journey_to_the_ Source:_Decoding_Matrix_Trilogy cited at June15, 2013
http://thefuturebuzz.com/wp-content/uploads/2010/12/source-mainframe.jpg cited July 1, 2011.