pita deadline

pita deadline

Rabu, 08 November 2017

World Hypertension & Heart Day 2017: Jaga Jantung, Jaga Tekanan Darah

Informasi cara menjaga kesehatan jantung harus terus digalakkan. PERKI Pusat dan Daerah merayakan kesehatan jantung dengan berbagai acara.

KNOW Your numbers! Alias Ketahui Tekanan Darahmu! Begitulah tema Hari Hipertensi Dunia 2017 yang dirayakan bulan Mei setiap tahun. Dengan mengetahui dan mengawasi tekanan darah, kesehatan jantung diharapkan dapat terjaga. Indonesia sendiri menambahkannya dengan tema nasional sendiri yakni “Cegah Hipertensi dengan Pendekatan Keluarga”.
Departemen Kesehatan menyatakan tema nasional itu dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat yang dimulai dari keluarga untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi. Selain itu juga masyarakat diharapkan dapat melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala dan bahwa hipertensi dapat dicegah dan diobati.
Maklum saja, data World Health Organization (WHO) tahun 2011 menunjukkan satu milyar orang di dunia menderita hipertensi. Yang menarik, sebanyak 2/3 diantaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Bahkan jika kondisi saat ini berlarut-larut, WHO meramalkan prevalensi hipertensi akan terus meningkat tajam dan pada 2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi.
Padahal hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, yang mana 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang 1/3 populasinya menderita Hipertensi sehingga dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan.
Masih menurut WHO, hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal dan kebutaan. Stroke (51%) dan Penyakit Jantung Koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi. Menurut data sample registration system (SRS) Indonesia tahun 2014, hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor lima pada semua umur.
Tentu saja, Hari Hipertensi ini dirayakan dengan berbagai kegiatan kesehatan. Sejumlah lembaga profesi dan kesehatan pun bekerja sama dan sibuk merayakannya. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI) menyelenggarakan “Bulan Pengukuran Tekanan Darah” pada 1-31 Mei. Mereka juga melaksanakan sosialisasi dan diseminasi informasi tentang hipertensi melalui berbagai media cetak, elektronik dan media tradisional serta pemasangan spanduk, umbul-umbul berisi pesan tentang hipertensi.
PERKI cabang di beberapa daerah juga merayakannya. Misalnya saja, PERKI Surabaya memusatkan perayaan di Taman Bungkul Surabaya, Mei silam. Acara yang diselenggarakan bareng Yayasan Jantung Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengukur tekanan darah secara rutin.
Acara dimulai dengan senam pagi di lapangan tengah Taman Bungkul yang diikuti oleh panitia serta para pengunjung taman, yang juga sedang menikmati car free day di Jalan Raya Darmo.
Perayaan kesehatan jantung ini masih berlanjut pada September dengan memperingati world Heart Day atau Hari Jantung Sedunia. Di berbagai daerah melaksanakan beragam perayaan mulai dari seminar kesehatan jantung untuk awam, senam jantung, senam zumba, parade jantung, kampanye kesehatan jantung oleh para artis dan seniman hingga tak lupa pelatihan Basic Life Support untuk awam.
[Tim InaHeartnews]

 Kemeriahan World Heart Day oleh PERKI Surabaya.

PERKI Palembang turut memeriahkan Hari Jantung Sedunia.

Selamat! Dr Yoga Yuniadi Menjadi Profesor Aritmia FKUI


2017 merupakan tahun bersejarah bagi Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K). Betapa tidak, pada 22 Agustus lalu, Yoga resmi menyandang gelar profesor aritmia. Syukuran pengukuhan Prof Dr dr Yoga Yuniadi SpJP(K), FIHA, FAsCC sebagai guru besar bidang ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Aritmia) Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dilaksanakan di Auditorium lantai 4 Gedung Satu RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
“Kemajuan di bidang aritmia belum bisa dinikmati secara luas oleh pasien-pasien di Indonesia karena sampai saat ini masih terdapat kendala besar dalam pelayanan aritmia di Indonesia, antara lain masih minimnya dokter subspesialis aritmia,” kata Yoga dalam siaran pers.
Sebenarnya, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) telah lama mengembangkan unit aritmia sejak awal 1990 untuk melayani para penderita gangguan irama jantung ini. Namun menurut Yoga, minat terhadap bidang aritmia masih minim. Yaitu dengan hanya ada 28 orang subspesialis aritmia dari 1.000 dokter spesialis jantung pembuluh darah yang ada saat ini. Jadi dalam kurun waktu 15 tahun, subspesialis aritmia hanya bertambah 26 orang saja.
"Aritmia seringkali dianggap sulit dipelajari karena harus dipahami dalam konteks mekanisme yang bersifat virtual. Struktur anatomi yang melatarbelakangi aritmia tidak kasatmata tetapi harus dibayangkan. Hal ini menjadikan aritmia unik dan membutuhkan upaya yang lebih banyak untuk mempelajarinya,” tutur Yoga.
Keadaan tersebut menyebabkan hanya sedikit para spesialis jantung dan pembuluh darah muda yang tertarik untuk belajar aritmia. Ditambah lagi apresiasi yang diberikan juga dirasakan masih tidak sepadan dibandingkan tingkat kesulitan dan risiko yang dihadapi seorang aritmologis.
Di Indonesia, epidemiologi aritmia tidak berbeda jauh dengan negara lain. Fibrilasi atrium (FA) merupakan aritmia yang paling sering didapatkan di klinik. Tidak jarang stroke merupakan manifestasi klinis pertama dari FA. Dalam hal ini dokter ahli saraf menjadi titik masuk pertama menuju diagnosis FA. FA merupakan suatu penyakit terkait umur (aging disease). Prevalensi FA mencapai 1-2% dan akan terus meningkat dalam 50 tahun mendatang.
Yoga memaparkan data, sampai saat ini, implantasi device (alat pacu jantung, ICD dan CRT) di Indonesia masih sangat rendah (hanya 2 per sejuta penduduk), lebih rendah dari Singapura (185), Thailand (59), Malaysia (39). Bahkan lebih rendah dari Filipina (9) dan Myanmar (6). (Ref: Medtronic Marketing Research, 2012).
Oleh karena itu diperlukan lebih banyak dokter ahli aritmia, juga diperlukan terobosan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di tanah air. Oleh karena itu, Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menginisiasi suatu program terobosan yang disebut dengan Integrated Implanter Crash Program (I2CP).
Yoga berharap integrated implanter crash program (I2CP) dapat terus digalakkan. Program ini terdiri dari (1) sepekan internet based learning yang diakhiri dengan ujian teori, (2) workshop dan wet lab, dan (3) proctorship 5 kasus di tempat masing-masing peserta.
“Dengan metoda ini telah dihasilkan 92 implanter baru dan 86 di antaranya aktif melakukan implantasi alat pacu jantung menetap. Saya optimis, tahun 2030 kita dapat memiliki 100 orang subspesialis aritmia yang aktif dan lebih banyak implanter untuk memberikan pelayanan yang lebih baik," katanya lagi.
[Tim InaHeartnews]



Harapan dan Tantangan Kardiovaskular PERKI Banda Aceh

PERKI Aceh mengadakan berbagai kegiatan pembinaan dan layanan kesehatan kepada masyarakat. Mulai dari yang santai, serius hingga ilmiah.


DATA yang ditunjukkan Riskesdas 2013 ini memang layak diwaspadai. Berdasarkan survei wawancara, prevalensi jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5% dan berdasarkan gejala sebesar 1,5%. Nah, hasil prevalensi jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter yang tertinggi adalah Sulawesi Tengah yakni sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing- masing sebesar 0,7 %.
Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut gejala yang tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur yakni sebesar 4,4%, kemudian diikuti Sulawesi Tengah sebesar 3,8%, Sulawesi Selatan sebesar 2,9%, dan Sulawesi Barat 2,6%. Prevalensi PJK di Indonesia terlihat meningkat seiring peningkatan umur.
Tak pelak lagi, berdasarkan Riskesdas, kawasan Banda Aceh dapatlah dikategorikan sebagai daerah “rawan serangan jantung”.
Inilah yang menjadi tantangan bagi para anggota dan pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Aceh mengantisipasi dan menekan angka kejadian penyakit jantung.
“Kami menyadari sepenuhnya bahwa hingga saat ini masih begitu banyak permasalahan yang terkait dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah di provinsi Aceh,” tutur dr. Muhammad Ridwan, MAppSc, SpJP, FIHA, Ketua PERKI Aceh.
Ridwan menyebutkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular tersebut dibarengi dengan kondisi belum terpenuhinya jumlah ahli jantung yang memadai di tiap-tiap kabupaten/kota di Aceh.
Sebab itulah, lanjut Ridwan, PERKI Banda Aceh ikut bertanggungjawab dalam pengembangan pelayanan dan pendidikan kardiovaskular di Aceh. “Kami terus mengadakan aktivitas berupa meningkatkan peran aktif dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang difokuskan pada upaya pengenalan & citivitas diri penyakit kardiovaskular di tengah masyarakat,” katanya.
Mulai dari simposium dan workshop, pelatihan ACLS, pelatihan EKG, Round Table Discussion, pengabdian masyarakat, edukasi kepada masyarakat melalui surat kabar, radio, TVR, menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit kabupaten/kota, hingga memberikan tausiyah di masjid-masjid.
Peningkatan kemampuan anggota juga menjadi bagian penting dari aktivitas PERKI Aceh. “Tantangan kehadiran dokter-dokter dari kawasan ASEAN dalam rangka penerapan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) masih menjadi tantangan besar bagi PERKI Banda Aceh,” tuturnya.
Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) anggota PERKI dilaksanakan berbagai program pendidikan berkelanjutan seperti fellowship training dan pendidikan Doktor. Selain itu PERKI Banda Aceh ikut berperan aktif bersama pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dalam menyiapkan pembukaan program studi pendidikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.
“Diharapkan dapat dimulai prosesnya tahun ini,” kata Ridwan. Banyak yang berharap hasil pendidikan ini dapat memenuhi kebutuhan ideal dokter ahli jantung baik untuk seluruh provinsi Aceh maupun kebutuhan SpJP di seluruh pelosok negeri.
Tentu saja, dalam melaksanakan berbagai misinya PERKI Aceh menempuh strategi “sersan” alias serius tapi santai. Misalnya PERKI pernah mengadakan acara Asian Medical Students’ Association (AMSA) Universitas Syiah Kuala di Blang Padang Banda Aceh, Desember silam bersama dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Tapi kegiatan itu diawali dengan olah raga dan pemeriksaan darah gratis kepada seluruh masyarakat. “Tak lupa juga kita adakan jalan santai di Blang Padang,” kata Ridwan.
Bicara soal jalan, kegiatan itu memang menjadi acara rutin PERKI Aceh. “Untuk menjalin keakraban sesama anggota kami mengadakan ramai-ramai jalan-jalan ke Padang dan tempat wisata lainnya, Mei lalu,” kata Ridwan.
PERKI Aceh juga terus berusaha meningkatkan jalinan kerja dengan institusi pemerintah dan swasta. Pertengaham Mei lalu, mereka mengadakan jamuan makan bersama dengan PT Astelas, Mei lalu. Uniknya, makan bersama antara seluruh anggota PERKI dan karyawan Astelas ini dilaksanakan dalam suasana adat istiadat Aceh. “Tentu hidangan yang disediakan juga ada citarasa makanan khas Aceh,” kata Ridwan.
Tak ketinggalan, seperti lembaga profesi lainnya, PERKI Aceh juga secara rutin melakukan bakti sosial. Terakhir kali mereka mengadakan di kawasan pedalaman Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Singkil pada 24 April hingga 8 Mei 2016.

Jalan-jalan ke Padang.

Bakti sosial dan pelatihan ACLS.

Ridwan berharap berbagai program yang dilaksanakan PERKI Aceh kepada masyarakat awam dapat bermanfaat. “Kami bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat luas, memberikan pemeriksaan gratis di setiap kegiatan yang dilakukan PERKI, serta bisa sharing pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan," katanya.
PERKI Aceh memang tergolong muda dibandingkan dengan PERKI Daerah lainnya, didirikan pada April 2015. Menyadari masih banyak yang harus dibangun dan dibina, serta tantangan yang ada, Ridwan berharap dukungan penuh dari teman sejawat.
“Bimbingan dari PP PERKI tentu sangat kami harapkan agar berbagai program kerja ke depan yang telah kita siapkan dapat berjalan dengan baik sehingga pelayanan dan pendidikan kardiovaskular dapat menjadi unggulan di provinsi Aceh," katanya lagi. 
[Tim InaHeartnews]