pita deadline

pita deadline

Rabu, 08 November 2017

PERKI JAYA: Lebih Mantab dengan Sekretariat Baru

PERKI Jaya mengawali kepengurusan baru dan kantor sekretariat baru. Aktivitas apa saja yang telah dilakukan?

PELATIHAN, seminar ilmiah dan mengurus anggota. Begitulah tugas rutin utama yang diemban pengurus sekretariat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Cabang Jakarta Raya (PERKI Jaya). Di samping tugas-tugas utama itu, tentu saja, para pengurus sekretariat PERKI Jaya masih memiliki seabrek tugas lain.
Namun, ada acara penting yang ditunggu-tunggu para anggota PERKI Jaya yakni pindah ke kantor baru ke PERKI House yang terletak di Jalan Danau Toba 139 A-C, Bendungan Hilir, Jakarta.
Bangunan ruko tiga lantai itu diharapkan dapat lebih meningkatkan produktifitas dan lebih leluasa menjalankan aktivitas sekretariat. “Secara resmi nanti pindah ke PERKI House, di Bendungan Hilir, Tanah Abang. Namun untuk kantor sementara yang kita tempati sekarang masih kita pakai juga untuk kantor operasional karena letaknya dekat dengan tempat berbagai kegiatan seperti pelatihan-pelatihan. Nanti di PERKI House untuk kantor administrasi,” tutur staf sekretariat PERKI Jaya, Syuaib yang bertugas menata masalah keanggotaan dan hubungan luar. Selain Syuaib, ada Mbak Nisa yang selalu mengurus berbagai event di PERKI Jaya dan Mbak Nani yang mengatur rumah tangga sekretariat.
Sementara ini, aktivitas sekretariat masih berlangsung di salah satu ruangan di lantai 4 Pusdiklat RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Dari sanalah, sekretariat menjalankan berbagai aktivitas. Misalnya saja, acara rutin yang selalu dihadirkan oleh PERKI Jaya, antara lain pelatihan EKG sebanyak 3 kali sebulan.
“Tempatnya selalu kami laksanakan kadang-kadang di Wisma Fit (belakang RSIA Harapan Kita --red) atau di Hotel Bamboo Inn, di Jalan Kota Bambu (di samping RS Jantung Harapan Kita –red). Disesuaikan dengan jadwal dan situasi. Namun untuk ke depannya mungkin akan memilih di satu tempat saja,” tutur Syuaib.
Selain itu, PERKI Jaya mengadakan Jakarta Cardiovascular Summit (JCS) pada akhir tahun ini. “Insya Allah tahun ini, di bulan Oktober, tanggal 14-15 Oktober di Sheraton Hotel bersamaan dengan diadakannya acara ISICAM. Jadi nanti di sana, ada dua penyelenggara, satu tempat dan waktu, namun obyeknya berbeda. ISICAM lebih ditujukan untuk dokter-dokter spesialis, sedangkan JCS untuk dokter umum dan perawat".
PERKI Jaya juga memiliki berbagai kegiatan handalan untuk mengasah keahlian anggotanya. Misalnya mengadakan beragam pelatihan seperti pelatihan BHD/BLS untuk perusahaan-perusahaan yang berminat. “Ini dalam rangka edukasi kepada sumber daya manusia (SDM) mereka bahwa BHD perlu dimiliki terutama para securitynya,” kata Syuaib.
Untuk itulah, Syuaib berharap untuk pengurus PERKI Jaya yang terpilih saat ini dapat lebih bergiat lagi menggiatkan aktivitas anggotanya. Apalagi kini jumlah anggota sekarang makin banyak. “Sudah mencapai 230 orang lebih, jadi perlu ditata dengan baik,” kata Syuaib.
Yang terpenting lagi, PERKI Jaya harus dapat mengayomi anggota. Saat ini, lanjut Syuaib, para pengurus PERKI Jaya sejak awal penerimaan atau pun perekrutan anggota sudah mengadakan berbagai pertemuan. “Jadi mereka sudah saling kenal. Bahkan kami juga sudah bikin acara santai yang fun sehingga terjalin komunikasi antara anggota junior dan senior,” kata Syuaib.
Tak hanya itu, lanjut Syuaib, di bawah kepengurusan PERKI Jaya yang dilantik pada Oktober silam, berbagai aktivitas keorganisasian mulai berlangsung lancar. “Untuk pengajuan surat-surat administrasi dan rekomendasi lebih mudah karena Ketua dan Sekjen ada di kawasan RS Harapan Kita. Kecuali jika mereka lagi tugas keluar kota atau cuti. Khusus untuk masalah keuangan memang harus ke RS Fatmawati dulu. Namun selama ini lancar-lancar saja,” katanya.
Lantas, apakah para pejabat PERKI Jaya juga kerap turun gunung melihat sekretariat? “Dibilang sering juga tidak karena mereka sangat sibuk, namun mereka sering memonitor via telepon atau WhatsApp. Mungkin karena sekretariat saat ini masih sementara. Kalau sudah pindah nanti mereka akan lebih sering datang ke sekretariat," tuturnya lagi. 
[Tim InaHeartnews] 

PARA STAF SEKRETARIAT PERKI JAYA: Pak Syuaib, Mbak Nani dan Mbak Nisa


Susunan Pengurus PERKI Jaya Masa Bakti 2016-2018

DEWAN PENASEHAT:
Dr. dr. Ismoyo Sunu, SpJP, FIHA
Dr. dr. Indriwanto S. Atmosudigdo, SpJP, FIHA
dr. Ismi Purnawan, SpJP, FIHA, MARS

Ketua : Dr. dr. Doni Firman, SpJP, FIHA
Wakil Ketua : dr. Hengkie F Lasanudin,SpJP, FIHA
Sekretaris : dr. Siska Suridanda Danny, SpJP, FIHA
Wakil Sekretaris : dr. Puti Sarah Saus, SpJP, FIHA
Bendahara : dr. Diah Retno Widowati, SpJP, FIHA
Wakil Bendahara : dr. Yasmina Hanifah, SpJP, FIHA

DEPARTEMEN KEANGGOTAAN, REGULASI DAN REKOMENDASI
Koordinator : dr. Heru Chandratmoko, SpJP, FIHA
Anggota :
dr. Tjatur Bagus Gunarto, SpJP, FIHA
dr. Yahya Berkahanto Juwana, SpJP, PhD,FIHA
Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, SpJP,FIHA

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN ORGANISASI, ADVOKASI-LEGISLASI KEBIJAKAN DAN ETIKA
Koordinator : dr. Dolly RD Kaunang, SpJP, FIHA, SpKP
Anggota :
Prof. Dr. dr. Zainal Mustafa, SpJP, FIHA
dr. Ismugi, SpJP, FIHA
dr. Dafsah Arifa Juzar, SpJP, FIHA

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (P2KB)
Koordinator : dr. Daniel PL Tobing, SpJP, FIHA
Anggota :
dr. Henry AP Pakpahan, SpJP, FIHA
dr. Amir Azis Alkatiri, SpJP, FIHA
dr. Vireza Pratama, SpJP, FIHA

DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN ANGGOTA DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
Koordinator : dr. Frits RW Suling, SpJP, FIHA
Anggota :
dr. Betriza, SpJP, FIHA
dr. Hermawan, SpJP, FIHA
dr. Dyna Evalina Syahlul, SpJP, FIHA

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN KEMITRAAN DAN KERJASAMA
Koordinator : dr. Taofan, SpJP, FIHA
Anggota :
dr. Zainuddin, SpJP, FIHA
dr. Elisa Feriyanti Pakpahan, SpJP, FIHA
dr. Wishnu Aditya Widodo, SpJP, FIHA

DEPARTEMEN MEDIA INFORMATIKA DAN PUBLIKASI
Koordinator : dr. Adrianus Kosasih, SpJp, FIHA
Anggota :
dr. Andria Priyana, SpJP, FIHA
dr. Luly Nur Wally, SpJP, FIHA

Pendidikan Kardiologi Harus Merata!

Penyelenggaraan pendidikan kardiologi saat ini dinilai sudah cukup memadai. Kualitas dan kemampuannya tidak kalah dengan luar negeri. Namun penyebaran lembaga pendidikan belum merata untuk semua wilayah.

PENYELENGGARAAN pendidikan kardiologi Indonesia sebenarnya cukup memadai dan tidak kalah mutunya dengan pendidikan kardiologi di luar negeri. Namun tentu saja masih banyak yang harus diperjuangkan dan diperbaiki.
Setidaknya, begitulah pendapat Dr Otte J Rachman, SpJP(K). “Masalah penyelenggaraan pendidikan kardiologi memang cukup kompleks. Banyak pihak yang terlibat dan harus dilibatkan,” kata Otte dalam perbincangannya dengan InaHeartnews, akhir September.
Salah satu yang menjadi perhatian Otte dalam pendidikan kardiologi adalah tidak meratanya penyelenggaraan tersebut. Akibatnya, suatu wilayah atau daerah tertentu memiliki fasilitas dan mutu pendidikan yang lebih baik ketimbang daerah lain. “Ini akibatnya, hasil pendidikan tersebut, yakni para dokter spesialis, tidak dapat memenuhi kebutuhan pasien di wilayahnya sendiri,” kata Otte.
Masalah tidak merata ini, lanjut Otte, tidak hanya terjadi pada penyelenggaraannya, tetapi juga pada ketersediaan fasilitas pendidikan yang ada. Akibatnya, kadang-kadang suatu lembaga pendidikan kedokteran di suatu wilayah terpaksa mengirimkan anak didiknya ke Pusat, atau kota-kota besar yang memiliki fasilitas pendidikan tersebut.
“Jadi penyebaran fasilitas pendidikan ini juga harus diperhatikan selain tentu saja penyelenggaraannya,” kata Otte. Sehingga pemerintah dan lembaga pendidikan kedokteran juga harus memperhatikan kedua aspek tersebut. “Bukan hanya perkara pendidikannya saja, tetapi juga fasilitasnya. Itu pun harus diperhatikan penyebarannya, untuk menghasilkan dokter-dokter yang berkualitas,” katanya.
Menurut pandangan dan pengamatan Otte, kondisi penyelenggaraan yang tidak merata ini juga terjadi di sejumlah negara berkembang seperti di Indonesia. Di Jakarta dan kawasan kota-kota besar lainnya memang telah terselenggara dengan baik. Tetapi di wilayah tertentu, apalagi di luar Pulau Jawa, harus mendapat perhatian dan perbaikan.
Lantas kira-kira apa yang harus dilakukan? Menurut Otte, pemerintah, swasta dan para dokter harus duduk bareng menyelesaikan masalah ini. Penyelenggaraan pendidikan, sivitas akademika, termasuk berbagai fasilitas penunjang haruslah dipenuhi dan dengan penyebaran yang merata.
Setelah itu, lanjut Otte adalah bagaimana membuat kerja sama ini langgeng. Salah satunya adalah dengan memupuk rasa percaya antar berbagai pihak ini secara terus menerus. “Masalahnya antara lembaga dan kelompok ini memang tidak saling percaya. Masing-masing pihak selalu menuntut secara berlebihan kepada pihak lainnya. Jadi kalau ini terus terjadi agak susah juga membentuk suatu sistem yang baik. Jadi di sini kita harus saling tolong menolong dan harus saling percaya dengan niat baik masing-masing,” katanya.
Padahal, menurut Otte, potensi pengembangan penyelenggaraan pendidikan kardiologi besar sekali. “Artinya, pendidikan di sini tidak kalah jika dibandingkan dengan luar negeri. Sama saja, relatif tidak ada perbedaan yang berarti. Kita juga mampu menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas,” katanya.
Jika itu telah terpenuhi, maka lembaga pendidikan kedokteran dapat memenuhi standar pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan.*
[Tim InaHeartnews]


dr. Otte J Rachman, SpJP(K) (kiri) beserta kolega.


Senin, 18 September 2017

Asmiha 2017: Upaya Mengatasi Tantangan "Universal Health Coverage"

Sejak Perki berdiri pada 1957 hingga sekarang, tetap konsisten mengatasi penyakit jantung dan pembuluh darah mulai dari fetal hingga geriatric. Suatu sistem pelayanan kesehatan terpadu sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia.


UNIVERSIAL Health Coverage, itulah yang menjadi tantangan dan pemikiran para tokoh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Hal itu tercetus dalam sambutan yang diberikan Ketua PERKI DR Dr Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, FAsCC, dalam acara tahunan ilmiah Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (Asmiha). Tahun ini, Asmiha 2017 dihelat pada tanggal 20-23 April di Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta dengan mengambil tema "Pendekatan Multi Disipliner untuk Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah di Semua Tingkatan Layanan Kesehatan".
Asmiha ke-26 ini dihadiri oleh sekitar 1.800 profesional kesehatan. Acara ini juga menampilkan berbagai pencapaian di bidang kardiovaskular, seperti bidang pencegahan, juga kemajuan teknologi kesehatan dan penelitian. Banyak materi yang dibahas, seperti acute cardiac practice, gagal jantung, prevensi kardiovaskular, hipertensi, sindrom kardiometabolik, bedah dan masih banyak lagi. Perhelatan Asmiha diharapkan dapat merangsang ide-ide penelitian bagi para profesional kesehatan.
"Pelayanan kardiovaskular di Indonesia saat ini menghadapi tantangan dalam era Universal Coverage. Dokter dituntut agar dapat bekerja dalam system sehingga dapat membantu Pemerintah dalam control kualitas dan biaya kesehatan masyarakat," tutur Ismoyo Sunu.
Di sisi lain, lanjut Ismoyo, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai sebuah milestone pelayanan kesehatan Indonesia, berperan penting dalam upaya pengobatan kardiovaskular yang luas di masyarakat. Sehingga bukan hanya penyakit kardiovaskular yang ringan saja tetapi juga banyak terdiagnosis penyakit gagal jantung lanjut, penyakit iskemik miokard lanjut dan penyakit vaskuler peripheral.
"Fakta ini, semakin memperkuat komitmen PERKI untuk terus meng-update ilmu pengetahuan kardiovaskular bagi para dokter di Indonesia melalui penyelenggaraan Asmiha tiap tahunnya. Sejak berdirinya PERKI pada 1957 hingga sekarang, perhimpunan ini tetap konsisten dalam mengatasi secara optimal masalah penyakit jantung dan pembuluh darah mulai dari fetal hingga geriatric," kata Ismoyo.
Hal itu juga yang ditekankan DR. Dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FESC, FACC, FICA, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah PERKI. Anwar mengutip data Riskesdas 2013. Di sana disebutkan angka kematian paling tinggi pada penyakit cerebrovaskular atau stroke sebanyak 27%, diikuti oleh hipertensi, penyakit jantung iskemik, diabetes, dan penyakit paru. Itu semua masuk kedalam kategori penyakit tidak menular yang berada di angka 60-65%.
"Jika tidak dilakukan upaya pencegahan pada penyakit­penyakit ini, maka negara ataupun masyarakat akan menanggung beban pembiayaan pengobatan. Di negara yang sudah maju, prevalensi dan faktor risiko penyakit kardiovaskular menurun, tetapi untuk negara yang masih berkembang malah meningkat. Sayangnya negara berkembang memiliki anggaran kesehatan yang lebih sedikit dibandingkan negara maju," katanya.
Sebab itulah kemudian, Anwar menyatakan Indonesia memerlukan sistem pelayanan kesehatan terintegrasi khususnya untuk penyakit kardiovaskular. Pelayanan terintegrasi maksudnya adalah pelayanan yang komprehensif, yang dimulai pada Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang terdiri dari Strata Layanan Primer (Puskesmas atau Klinik Pratama), Sekunder (RS kelas C dan D), maupun Layanan Tersier (RS Kelas A dan B).
"Dalam sistem yang terintegrasi jika pasien dari layanan primer tidak bisa ditangani, ia tidak bisa langsung dirujuk ke layanan tersier, pasien harus melalui layanan sekunder terlebih dahulu. Seharusnya 75% masalah penyakit jantung dan pembuluh darah dapat diselesaikan di layanan primer, lalu selebihnya jumlah 25% bisa dirujuk ke layanan sekunder dan tersier. Masyarakat harus mendapatkan program kesehatan, pengobatan dalam konteks rawat jalan atau rawat inap. Namun, yang lebih penting dari itu adalah kegiatan pencegahan penyakit," kata Anwar.
Sayangnya, menurut Anwar, pelaksanaan sistem terintegrasi saat ini masih menemui beberapa kendala yang muncul dari 3 aspek, yaitu masyarakat atau pasien, dokter dan sistem kesehatan. Di kalangan masyarakat atau pasien, pada umumnya kepedulian masyarakat masih rendah terhadap penyakit kardiovaskular, mengenai dampaknya, kurang paham terhadap faktor risiko dan cara pencegahannya. "Salah satu cara menangani masalah tersebut, yaitu dengan cara mengadakan edukasi terus menerus," katanya lagi.*